Saatnya Muhammadiyah Mewartakan Islam Damai Ke Seluruh Dunia

Saatnya Muhammadiyah Mewartakan Islam Damai Ke Seluruh Dunia

Prof Nakamura, pengamat Muhammadiyah dari Jepang, mengajak dakwah damai di Jepang.  Ajakan ini disampaikan karena pada saat ini terjadi Islamophobia di Jepang. Islamopobhia ini dirasakan hampir semua lapisan masyarakat, dari lapisan bawah sampai dosen-dosen di perguruan tunggi di Jepang. Islamophobia (ketakutan terhadap Islam) terjadi setelah dua warga negara Jepang dieksekusi oleh ISIS beberapa waktu lalu di Timur Tengah.

Menurut Nakamura, Islamophobia di Jepang  sudah memprihatinkan. “Kolega-kolega saya di Universitas Chiba nampak ketakutan ketika saya akan ke Indonesia menghadiri pertemuan dua organisasi besar, NU dan Muhammadiyah,” terang Nakamura . Mereka menanyakan, apa tidak berbahaya menghadiri pertemuan tersebut?
Sebagai seorang peneliti gerakan Islam, Nakamura tahu betul kondisi ini, Ia bertahun-tahun meneliti tentang gerakan Islam, termasuk gerakan Islam di Indonesia. Bahkan hampir setiap ada kegiatan akbar organisasi Islam  di Indonesia, Muhammadiyah dan NU, selalu diundang. Dan selama ini, aman-aman saja.

Mereka, umumnya orang Jepang termasuk dosen-dosen di Universitas Chiba, tidak tahu bahwa ada perbedaan sifat Islam di Indonesia dibanding sifat Islam di Timur Tengah. Islam di Indonesia lebih damai ketimbang Islam di Timur Tengah. Karenanya, Nakamura mengajak Muhammadiyah untuk dakwah Islam damai di Jepang agar Islamophobia di Jepang dapat segera berkurang.

Ajakan ini secara khusus ditujukan kepada PCIM dan Rektor-Rektor Muhammadiyah karena anggota PCIM terbiasa dakwah di luar Indonesia sedangkan Rektor-Rektor merupakan penentu dosen-dosen di perguruan tingginya mau dikirim ke mana ketika melakukan studi lanjut di luar negeri. Nakamura berharap agar PCIM selalu menyuarakan Islam damai diberbagai dunia. Terutama di Jepang.

Sedangkan untuk Rektor-Rektor Universitas Muhammadiyah, saat ini, menurut Nakamura, terbuka sangat luas perguruan tinggi di Indonesia, termasuk perguruan tinggi Muhammadiyah, untuk mengirim tenaga akademiknya studi lanjut di Jepang. Ini karena di Jepang  saat ini terjadi pertumbuhan penduduk yang negatif.  Jumlah kelahiran penduduk Jepang yang negatif  dan usia penduduk yang lebih panjang menjadikan penduduk usia tua lebih banyak dari yang muda.
Karenanya, akhir-akhir ini banyak perguruan tinggi di Jepang yang kekurangan mahasiswa.  Oleh sebab itu, banyak perguruan tinggi di Jepang membuka pintu lebar-lebar bagi mahasiswa asing untuk kuliah di Jepang. Sebab jika tidak ada peminatnya, perguruan tinggi dapat ditutup karena kekurangan mahasiswa.

Kesempatan yang demikian terbuka ini, ia harapkan dapat dimanfaatkan para rektor universitas Muhammadiyah untuk mengirimkan civitas akademikanya untuk belajar di Jepang. Sehingga  mereka yang dikirim ke Jepang dapat melakukan dua fungsi, belajar di Jepang sekaligus juga dakwah Islam damai di Jepang.

Dua hal ini, berdirinya PCIM dengan kedatangan mahasiswa baru dari perguruan tinggi Muhammadiyah akan sangat membantu jalannya dakwah damai di Jepang. Jika ini dapat dikerjakan secara simultan. maka Islamophobia yang sedang melanda Jepang saat ini akan semakin menipis dan bahkan dapat saja hilang sama sekali.
Menipisnya Islamophobia akan menguntungkan hubungan Jepang dengan negara-negara Islam yang mengembangkan Islam damai seperti di Indonesia. Kerjasama antara keduanya menjadi lebih lancar, karena tak ada kendala ketakutan-ketakutan. di kedua pihak •(eff)

Exit mobile version