Perkaderan Muhammadiyah harus mampu merangsang lahirnya pemimpin-pemimpin yang berkarakter. Yaitu pemimpin yang memiliki komitmen, mempunyai jiwa leadership dan manejerial yang baik, serta memiliki wawasan kebangsaan dan keislaman yang luas. Pernyataan ini disampaikan Busyro Muqoddas, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam pidatonya pada Pembukaan Pelatihan Kader Paripurna Taruna Melati Utama (PKPTMU) di Palembang beberapa hari lalu.
Menurut Busyro, perkaderan hakiki adalah perkaderan yang mampu memunculkan jiwa kepimimpinan anggotanya. Tentunya jiwa kepemimpinan itu dimiliki oleh kader yang berkarakter. Untuk itu, arena-arena perkaderan yang terdapat dalam persyarikatan harus mampu merangsang dan merubah diri pribadi anggotanya menjadi pribadi kader yang berkarakter. Karena kader-kader yang berkarakter itulah yang akan melanjutkan tampuk kepemimpinan di masa yang akan datang. Baik itu pemimpin di Muhammadiyah secara khusus mapun pemimpin bangsa secara umum yang dewasa ini mengalami krisis kepemimpinan.
Krisis kepemimpinan, lanjut Busryo, adalah tantangan Indonesia di masa modern. Krisis ini betul-betul dirasakan oleh masyarakat secara menyeluruh dengan indikasinya makin hilang kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpin bangsa ini. Lunturnya kepercayaan tersebut tentu berdasar pada alasan. Salah satunya adalah sifat dan sikap pemimpin bangsa yang makin jauh dari moral amanah. Korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah bukti nyata yang sampai sekarang masih melekat pada banyak pribadi pemimpin di Indonesia.“PKTMU ini merupakan kegiatan yang tepat, sebab bangsa Indonesia butuh pemimpin hakiki yang dilatih integritasnya sejak sekarang” pangkasnya. (gsh-ed.nisa)






