SLEMAN –– Dedikasi Aisyiyah telah tercatat dalam setiap gerak sejarah bangsa Indonesia, sejak masa penjajahan, era awal kemerdekaan, masa orde lama, orde baru, hingga era reformasi sekarang. Tugas segenap anggota Aisyiyah sekarang adalah melanjutkan tugas-tugas mulia pada negeri secara lebih mandiri. Demikian dikatakan Hj. Zulaikha, dalam sambutan pembukaan Musyda Aisyiyah Sleman, pada Sabtu (30/1) lalu, di Wisma Puas, Kaliurang, Yogyakarta.
Ketua umum Pimpinan Wilayah Aisyiyah Daerah Istimewa Yogyakarta itu merincikan, bahwa Nyai Walidah telah memulai dalam memberdayakan perempuan sebelum semua aktivis memulai. Melalui perkumpulan Sopo Tresno, Nyai Walidah sudah mengupayakan keadilan gender, dan terus berlanjut setelah didirikannya Aisyiyah pada 1917. “Pada tahun 1919, Nyai Walidah sudah peduli dan menyadari pentingnya pendidikan. Sehingga didirikannya Taman Kanak-kanak di Kauman, yang menjadi TK pertama di Indonesia. Sampai saat ini, TK yang dibangun langsung oleh Nyai Walidah ini masih ada dan menjadi salah satu TK unggulan.”
“Pada tahap berikutnya, tahun 1922, Nyai Walidah dan kawan-kawan mendirikan mushala Aisyiyah. Mushala ini menjadi tonggak kegiatan kaum perempuan di luar rumah. Padahal ketika itu, perempuan sangat tabu untuk melakukan kegiatan di ranah publik. Di tahun 1926, Aisyiyah mulai menerbitkan majalah Suara Aisyiyah, yang masih eksis hingga hari ini.”
Ketua PWA melanjutkan, “Masih menurut data sejarah, pada tahun 1928, ketika berlangsungnya Kongres Perempuan yang diinisiasi oleh kader-kader Aisyiyah itu, lebih dari setengah peserta yang hadir merupakan para anggota Aisyiyah. Dan yang membawakan pidato dengan tema pentingnya kaum perempuan bersatu adalah juga anggota Aisyiyah.”
Di bagian lain, dirinya mengharapkan supaya peran-peran strategis yang sudah dilakukan oleh Aisyiyah bisa terus dilanjutkan. Semua itu terkait dengan isu-isu yang sudah menjadi bidang kerja Aisyiyah selama ini meliputi keluarga, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, sosial, ekonomi, kesehatan, perlindungan anak, perempuan, maupun bidang garapan baru. Harapannya, Aisyiyah bisa semakin mandiri dan bisa berbuat lebih banyak lagi.
“Di abad kedua, tantangan yang dihadapi sangat tidak ringan. Terdapat berbagai kasus-kasus yang harus menjadi perhatian Aisyiyah, semisal penguatan program keluarga sakinah, maraknya kasus pernikahan dini, persalinan dini, kasus HIV/AIDS, kesehatan reproduksi, penyalahgunaan narkoba, dan lain-lain. Melalui Musyda ini, saya berharap Aisyiyah Sleman bisa mengagendakan perubahan,” ujarnya di hadapan ratusan peserta Musyda. (Ridha-Ed. Nisa)
