• Tentang SM
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami
Minggu, Januari 11, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

Hedar Nashir; Pemahaman Agama yang Instan Sumber Bencana Kemanusiaan

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
19 April, 2016
in Berita, Dinamika persyarikatan
Reading Time: 1 min read
A A
0
Hedar Nashir;  Pemahaman Agama yang Instan Sumber Bencana Kemanusiaan
Share

Yogyakarta- Pemahaman terhadap agama yang instan rawan menimbulkan kekerasan, intoleransi, dan penyimpangan nilai-nilai kemanusiaan. Pendapat ini disampaikan Dr Haedar Nashir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Konferensi Pers maklumat Muhammadiyah terkait penetapan Ramadhan di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (18/4).

Menurutnya, sebagian besar mubaligh, khusunya yang orientasinya hiburan (entertaiment), lebih banyak menawarkan nilai-nilai agama yang instan. Hal itu sama saja para mubaligh tersebut melakukan pendangkalan nilai. “Seolah agama terlihat seperti kembang api, bercahaya tapi tidak memberikan pencerahan,” ucap Haedar.

Baca Juga

Sampah Ancaman Bagi Kehidupan

Muhammadiyah dan PM Malaysia Bertemu, Gagas Kerjasama Negeri Serumpun

Dari pendangkalan nilai itu, munculah fenomena gegar budaya dan kemanusiaan baik lokal maupun universal. Salah satunya adalah fenomena orang cenderung melakukan tindakan melenyapkan nyawa orang lain dengan mudah. Contoh saja kasus multilasi perempuan hamil, kematian Siyono, dan benturan arak-arakan di Jogja yang menewaskan satu orang. “Semua tragedi kemanusiaan itu lahir akibat pendangkalan nilai, yang kemudian prilaku baik tidak baik dan patut tidak patut menjadi hilang,” sambung Haedar.

Bahkan, Haedar menambahkan, pelaku tragedi kemanusiaan itu tidak mengalami goncangan batin ketika harus melenyapkan nyawa orang lain.

Akibat lain dari pendangkalan itu, terusnya, orang cenderung menjadikan agama sebagai alat komodifikasi, alat komoditas untuk kepentingan politik dan kekuasaan. Maka tak jarang atas nama agama ketika seseorang memperoleh kekuasaan, agama nyaris tidak dijadikan sumber nilai. Prinsipnya adalah Aji Mumpung demi kepentingan kelompok dan pribadi, serta cenderung menyingkirkan kelompok lain.

Sekarang, melalui hadirnya Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah, sudah saatnya umat, aktivis, dan tokoh agama kembali memahami nilai-nilai dasar yang paling dalam dari agama. Sehingga agama bisa menjadi pusat orientasi prilaku. “Saya yakin kalau ini yang akan menjadi arus utama dalam berislam kedepan, maka bangsa ini akan terbimbing untuk menjadi bangsa yang religius, kritis, serta menjadikan masyarakat memiliki spiritual yang matang,” kata Haedar. (gsh)

Tags: featuredgegar kemanusiaangoncangan budayaHaedar Nashirkonsumerisme
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Pesan Muhammadiyah di Hari Bumi: Rawat Planet Kita dengan Baik!
Berita

Sampah Ancaman Bagi Kehidupan

11 September, 2023
Muhammadiyah dan PM Malaysia Bertemu, Gagas Kerjasama Negeri Serumpun
Berita

Muhammadiyah dan PM Malaysia Bertemu, Gagas Kerjasama Negeri Serumpun

5 September, 2023
Haedar Nashir Ingatkan Relevansi Pelayanan Kesehatan Bermasyarakat
Berita

Haedar Nashir Ingatkan Relevansi Pelayanan Kesehatan Bermasyarakat

2 September, 2023
Next Post

Mahasiswa PUT UNISMUH Makassar Rangkul Pengurus Masjid Se-Kota Makassar Lahirkan Mubaligh

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In