Membangun Kembali “Kedai Kami”

Oleh; Prof Dr Din Syamsuddin.

Muhammadiyah pernah dikritik karena karena selama 100 tahun ini belum berhasil membangun dirinya menjadi gerakan ekonomi nasional. Dalam bahasa ekonomi, apa yang dilakukan oleh Muhamamdiyah, lewat kegiatan pondidikan, pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial masih lebih dekat dengan kegiatan yang bernuansa jasa ketimbang usaha yang bernuansa produksi, distribusi (perdagangan), dan permodalan.

Menjawab kritik semacam itu tidak mudah. Sebab memang pada kenyataannya, secara internal,  di kalangan aktivis Muhammadiyah terjadi perubahan mata pencaharian utama dari yang semula adalah para pedagang (distribusi)  dan pengusaha (produksi) sekarang ini, dalam perkembangannya, para aktivisnya lebih banyak terdiri dari kelas pegawai negeri. Mengecilnya jumlah kelas pedagang dan pengusaha di dalam tubuh Muhammadiyah, diganti dengan membesarnya kelas pegawai negeri atau kelas birokrat membawa dampak yang tidak ringan. Yaitu berkurang atau menipisnya etos kewirausahaan di kalangan Muhammadiyah.

Kedua, secara eksternal, akibat dari pembangunan ekonomi pemerintah yang kurang berpihak pada masyarakat tetapi cenderung lebih memihak konglomerat maka basis-basis ekonomi kaum santri mengalami keruntuhan di mana-mana. Lebih-lebih ketika pemerintah kemudian lebih berpihak pada kaum neolib atau kapitalis pemuja pasar besas global. Pasar-pasar tradisional yang menjadi tempat berpijak untuk berdagang bagi kaum santri pelan-pelan dilumpuhkan dan dihancurkan. Yang tumbuh di mana-mana adalah mall, plaza, supermarket, hypermarket, sampai jaringan retail berskala global tetapi dibiarkan menjangkau ke jantung pedesaan dan kampung-kampung.

Kaum santri, dalam hal ini kebanyakan terdiri dari aktivis Muhammadiyah kemudian mengalami periode “Robohnya Kedai Kami”. Peluang untuk berusaha lewat produksi barang-barang menyempit karena jaringan pasar modern yang berwajah global itu lebih didominasi oleh banjir barang-barang impor. Peluang untuk berusaha dan berdagang di pasar-pasar tradisional juga menyempit karena makin lama pasar jenis ini makin kalah dan terpuruk. Bahan baku dan permodalan juga sulit didapat. Ditambah lagi pada sektor finansial, sekarang muncul gejala negatif dimana bank-bank yang kuat pun dikuasai oleh pemodal asing. Kalau pemodal asing yang menguasai bank itu kemudian juga menjarah pasar finansisal sampai ke tingkat menengah dan bawah, bahkan sampai bermain ke pasar uang retail, habis sudah dan roboh sudah “kedai-kedai kami”.

Masalahnya, apakah kita akan berpangku tangan melihat semua ini? Apakah kedai kaum santri ini kita biarkan roboh untuk seterusnya? Jawabnya tentu tidak. Muhammaduyah sebagai kekuatan masyarakat dan kekuatan bangsa tentu tidak membiarkan dirinya dihancurkan dan dilemahkan oleh kekuatan kapitalis neolib global. Kita harus berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Kita harus melakukan upaya “Membangun Kembali Kedai Kami.”

  Untuk ini kita harus optimis. Mengapa? Karena sesungguhnya kita masih memiliki potensi untuk itu. Masih banyak “Sisa Lasykar Pajang” atau para pejuang ekonomi Muhammadiyah yang sesungguhnya memiliki skill memadai untuk bergerak di sector usaha produksi maupun distribusi. Potensi para pejuang ekonomi Muhammadiyah ini perlu kita persatukan, dari jaringan jamaah di masjid-masjid sampai ke tingkat di atas. Pimpinan Cabang misalnya dapat menjadi payung untuk mengembangkan usaha itu.

Kita juga layak optimis, karena kemampuan masyarakat terbawah kita, di basis-basis jamaah dan Ranting dalam hal memupuk modal, atau bergerak di sektor financial maish cukup kuat. Kita melihat bagaimana potensi zakat dapat dioptimalkan lewat pola Bapelruzam di Weleri Kendal yang menjadi rujukan pengelolaan zakat bagi aktivis Muhamamdiyah di Indonesia. Kita melihat bagaimana potensi dana umat juga dapat dioptimalkan lewat pola BTM Wiradesa yang kemudian menjadi pusat pengembangan BTM di seluruh Indonesia. Kita juga melihat bagaimana para pengusaha Muhamamdiyah yang ada dengan gigih terus bergerak, bahkan mampu membuka cabang-cabangnya di berbagai kota. Belum lagi ibu-ibu Aisyiyah yang selama ini terbukti mampu menggeliatkan kegiatan ekonomi keluarga di mana-mana.

Nah, “Kedai Kami” memang layak dibangun dan diperkokoh kembali.

Exit mobile version