SURABAYA, suaramuhammadiyah.id-Maraknya kasus kekerasan dan pengeboman di akhir bulan suci Ramadhan 1437 H mengundang banyak spekulasi dari berbagai pihak. Beragam penafsiran positif dan negative dimunculkan. Tak sedikit yang mengkaitkan tindakan terorisme tersebut sebagai bagian dari ajaran agama yang mengandung sisi kekerasan. Untuk meluruskan opini public terhadap kasus yang terjadi di bulan suci bahkan di tempat suci Madinah, para khatib Muhammadiyah menyampaikan pesan damai Islam dalam khutbah idul fitri, Rabu (6/7).
Bertempat di lapangan parkir KONI, sekitaran asrama haji Surabaya, tidak jauh dari kampus Universitas Airlangga (Unair) dan ITS, pelaksanaan salat idul fitri yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Klampis Ngasem, Kecamatan Sukolilo, Surabaya itu menghadirkan Dr Robby Habiba Abror MHum sebagai imam dan khatib.
Dalam khutbahnya, Robby menyampaikan beberapa pesan moral yang penting untuk umat Islam khususnya dan bangsa ini pada umumnya. Dosen UIN Sunan Kalijaga ini mengingatkan tentang hikmah puasa ramadan sebagai bagian dari ketaqwaan dan buah ketaqwaan itu ialah diampuninya dosa-dosa, diberikan kemenangan yang besar dan furqan yakni petunjuk untuk membedakan yang haq dari yang batil.
“Islam adalah agama yang cintai damai dan umat Islam berkewajiban menebarkan pesan damai kepada siapapun di muka bumi ini. Tindakan kekerasan atas nama Tuhan tidak pernah disahkan oleh agama mana pun di dunia ini,” ungkap ketua MPI PWM DIY.
Bagi Robby, tindakan bom bunuh diri bukan ajaran jihad, bukan seruan moral Islam, karena perbuatan tersebut secara jelas bertentangan dengan al-Quran dan hadits. “Bunuh diri dilarang keras dalam Islam dan termasuk dosa besar, bahkan Rasulullah saw memperingatkan bahwasannya pelaku bunuh diri nanti akan melakukan tindakannya secara berulang-ulang di neraka selama-lamanya. Apalagi sampai melenyapkan nyawa orang lain, itu kata Allah swt sama saja dengan membunuh seluruh umat manusia,” urainya.
“Islam mengajarkan tentang pentingnya bersabar atas apa yang apapun yang sedang kita alami dan tidak berputus asa, karena sesungguhnya Allah swt telah menjamin rizki setiap makhluk-Nya dan mencatat takdirnya di lauhul mahfudz,” imbuh Robby.
Terakhir, khatib menegaskan peringatan Nabi saw, bahwa jaman sekarang ini penuh tipu daya dan fenomena Ruwaibidhah, yakni orang-orang bodoh yang mengurusi urusan publik. Maka umat Islam harus cerdas membaca tanda-tanda zaman, keruwetan ekonomi-politik, dan secara pribadi menjadi Muslim yang kokoh imannya, tangguh secara intelektual dan dapat memelihara dzikrullah sebagai manifestasi ihsan dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini (Ribas).
Pesan Agama Cinta Damai dari Mimbar Idul Fitri
