• Disclaimer
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami
Sabtu, Maret 14, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

Indonesia Butuh Banyak Sejarawan Islam

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
12 Agustus, 2016
in Berita
Reading Time: 1 min read
A A
0
Indonesia Butuh Banyak Sejarawan Islam
Share

YOGYAKARTA.suaramuhammadiyah.id-Guru besar Ilmu Sejarah Prof Azyumardi Azra  menyatakan bahwa keberadaan sejarah merupakan hal penting yang tidak bisa dinomorduakan. Terlebih dalam konteks Indonesia, perebutan wacana dan kepentingan politis sering menjadikan sejarah tersajikan secara subjektif dan bias nilai.

Menurut Azra, banyak sejarawan yang lahir belakangan berasal dari kalangan bukan santri dan tidak memahami konsep-konsep dasar Islam. Akibatnya, sejarah kerap dipaparkan dengan tidak melibatkan peranan umat Islam dan doktrin Islam sama sekali di balik suatu peristiwa sejarah di Indonesia.

Baca Juga

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

“Bagaimanapun, agama seseorang itu mempengaruhi,” ungkap anggota Konsultan Ahli Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah itu dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bersama dengan redaksi Suara Muhammadiyah, Kamis (11/8) malam.

Baca: Prof. Azyumardi Azra: Internasionalisasi Berarti Membangun PTM Menuju Center of Excellence

Beberapa contoh produk sejarah yang bersifat bias dan harus dikoreksi, sebut Azra, semisal perlawanan petani Banten yang sering dipersepsikan hanya didorong oleh ideologi petani, jarang menyebut sebagai akibat dari perlawanan orang-orang tharekat (sufi).

Demikian halnya dengan perang Dipenogoro, hingga sejarah kebangkitan Nasional yang diidentikkan dengan Budi Otomo, bukan Serikat Islam. Padahal fakta sejarah menunjukkan Serikat Islam lebih pantas menyandang status sebagai organisai awal yang mendorong kebangkitan nasional, dibandingkan dengan Budi Utomo yang bersifat local.

Merujuk pada fakta peminggiran peranan agama tersebut, mantan rector UIN Syarif Hidayatullah ini mendorong supaya muslim Indonesia mulai memikirkan langkah-langkah strategis untuk melahirkan dan memperbanyak jumlah sejarawan yang paham dengan konsep-konsep Islam, serta mampu memposisikan agama dalam sejarah secara tepat dan objektif (Ribas).

Baca: Minder Jadi Muslim Indonesia? Ini Jawaban Prof Azyumardi Azra

Tags: Azyumardi AzraIslammuhammadiyahsejarah
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu
Berita

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

11 Maret, 2026
Prof Abdul Mu’ti di Mata Para Kolega
Berita

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

11 Maret, 2026
Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara
Berita

Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara

11 Maret, 2026
Next Post
Ahmad Zaid  Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jateng  Meninggal Dunia

Ahmad Zaid Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jateng Meninggal Dunia

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In