• Tentang SM
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami
Senin, Januari 12, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

Sering Dituduh Wahabi, Muhammadiyah Perlu Tunjukkan Sisi Kultural

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
16 Juli, 2018
in Berita
Reading Time: 1 min read
A A
0
Sering Dituduh Wahabi, Muhammadiyah Perlu Tunjukkan Sisi Kultural
Share

YOGYAKARTA, suaramuhammadiyah.id—Salah seorang Profesor National University of Singapore (NUS), Azhar Ibrahim menyatakan bahwa Muhammadiyah perlu menunjukkan sisi kultural yang ramah dan bersinergi dengan budaya lokal. Selama ini, Muhammadiyah hanya dikenal sisi puritan atau pemurniannya saja, yang cenderung keras dan anti budaya.

“Menunjukkan sisi intelektual dan kultural Muhammadiyah sangat penting. Muhammadiyah sering dianggap anti kultural, bahkan dipersepsikan dekat dengan Wahabi,” kata Prof Azhar Ibrahim, Guru besar National University of Singapore, dalam acara diskusi terbatas dengan Suara Muhammadiyah di Kantor Suara Muhammadiyah lantai 2, Senin (19/9).

Baca Juga

Deni Asy’ari Tekankan Relevansinya Mengonsolidasikan Gerakan Ekonomi Berjamaah

Muhammadiyah Kritik DPR Langgar Keputusan MK

“Orang tahu Muhammadiyah itu anti TBC (Tahayul, Bid’ah dan Churafat). Atau paling-paling tahu Kyai Ahmad Dahlan membuat sekolah dan hospital (Rumah Sakit),” tutur Azhar. Masyarakat tidak banyak tahu tentang theology social atau theology al-Maun yang dikembangkan oleh Kyai Dahlan atau Muhammadiyah sampai sekarang. Sehingga ada gap dengan realitas yang ada.

Menurut Azhar, Muhammadiyah di pulau Jawa sangat tidak identic dengan Wahabi. Namun masyarakat secara umum cenderung mengenal Muhammadiyah dari buku-buku karya orientalis semisal James Peacock (University of North Carolina, AS) yang merekam salah satu sisi Muhammadiyah yang puritan. Tanpa membandingkan dengan penelitian lainnya, semisal ‘Muhammadiyah Jawa’ karya Ahmad Najib Burhani.

Azhar juga menyatakan bahwa Muhammadiyah perlu memperkaya ranah sastra. “Muhammadiyah dalam sastra tidak ada representasi,” katanya. Menurutnya, penting untuk menunjukkan diri dan dakwah Muhammadiyah dalam sastra semisal yang dilakukan oleh Buya Hamka dan Kuntowijoyo melalui novel dan cerpen-cerpennya. (Ribas)

 

Tags: Azhar Ibrahimbudayamuhammadiyah
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Deni Asy’ari Tekankan Relevansinya Mengonsolidasikan Gerakan Ekonomi Berjamaah
Berita

Deni Asy’ari Tekankan Relevansinya Mengonsolidasikan Gerakan Ekonomi Berjamaah

28 September, 2024
Prof Dr Abdul Mu'ti
Berita

Muhammadiyah Kritik DPR Langgar Keputusan MK

22 Agustus, 2024
Tingkatkan Taraf Hidup Rakyat, Muhammadiyah MoU dengan BCA Syariah
Berita

Tingkatkan Taraf Hidup Rakyat, Muhammadiyah MoU dengan BCA Syariah

2 Juli, 2024
Next Post
PCIM Jerman

Muhammadiyah Jerman Luncurkan LazisMu Jerman

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In