• Disclaimer
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
Senin, Maret 16, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

‘Meski Pernah Gondrong, Pekerjaan Saya dari Toko Buku ke Toko Buku, dari Perpustakaan ke Perpustakaan’

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
24 Januari, 2019
in Berita
Reading Time: 1 min read
A A
1
‘Meski Pernah Gondrong, Pekerjaan Saya dari Toko Buku ke Toko Buku, dari Perpustakaan ke Perpustakaan’

Dok PP Muh

Share

TANGERANG, Suara Muhammadiyah– Kalimat itu terlontar dari mulut ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir saat pembukaan Tanwir Pemuda Muhammadiyah yang digelar di Narita Hotel, Tangerang Senin (28/11).

Dalam tanwir yang mengusung tema “Meninggikan Akhlak, Membumikan Dakwah untuk Indonesia Berkemajuan” itu, Haedar menceritakan sekilas tentang pengalamannya ketika masih sebagai aktivis. Katika itu, jiwa muda Haedar dicurahkan dalam berorganisasi dan dunia literasi.

Baca Juga

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

“Rambut saya pernah gondrong. Ayah saya tidak pernah melarang saya gondrong. Tapi mengingatkan jika pendek lebih bagus,” kata Haedar. Pendidikan orang tua Haedar yang memberikan kebebasan bagi Haedar untuk memilih jalannya itu membentuk jiwa dan kepribadian.

Haedar menyatakan bahwa dirinya pernah mengabdi di suatu LSM sampai sepuluh tahun. Selain tentunya aktif di IPM dan PM. “Pekerjaan saya tetap, dari toko buku ke toko buku yang lain. Dari satu perpustakaan ke perpustakaan yang lain,” ujarnya.

Perpaduan antara jiwa yang haus ilmu dan dunia aktivis itulah yang membentuk  kepribadian para penggerak Muhammadiyah. “Itulah yang membentuk kami di PP Muhammadiyah,” ujarnya. Sehingga ketika bergerak, mereka dipandu oleh intelektualitas dan spiritualitas yang luas. Oleh pengetahuan dan kebijaksanaan yang tidak kering makna.

Tidak hanya hari ini, namun sejak awal kelahiran Muhammadiyah, tak bisa dilepaskan dari budaya ilmu. “Jendral Soedirman, Juanda, Kasman, dan tokoh-tokoh Muhamadiyah yang dikenal jiwanya tegas dan pemberani adalah mereka yang jiwanya haus akan ilmu dan tidak pernah meninggalkan tradisi Iqra,” tutur Haedar.

“Kalau Pemuda Muhammadiyah ingin membangun narasi besar nalar praksis, ingin membangun peradaban, maka basisnya adalah kecerdasan dan ilmu. Pemuda Muhammadiyah, di tengah kesibukan apapun, selalu harus mau berdialog, berdiskusi, dan membangun tradisi iqra,” ajak Haedar kepada aktivis pemuda Muhammadiyah (Ribas).

Tags: budaya ilmuHaedar Nashirmuhammadiyah
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu
Berita

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

11 Maret, 2026
Prof Abdul Mu’ti di Mata Para Kolega
Berita

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

11 Maret, 2026
Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara
Berita

Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara

11 Maret, 2026
Next Post
Haedar Nashir: Keislaman dan Keindonesiaan Menyatu Dalam Jiwa Kami Tanpa Harus Digembar-Gemborkan

Haedar Nashir: Keislaman dan Keindonesiaan Menyatu Dalam Jiwa Kami Tanpa Harus Digembar-Gemborkan

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In