• Tentang SM
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami
Senin, Januari 12, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

Terkait Pemisahan Agama dan Politik, Begini Pandangan Buya Syafii Maarif

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
11 April, 2017
in Berita
Reading Time: 1 min read
A A
0
Terkait Pemisahan Agama dan Politik, Begini Pandangan Buya Syafii Maarif

Buya Syafii berbincang dengan redaksi Suara Muhammadiyah, 2017 (Foto: dok sm)

Share

JAKARTA, Suara Muhammadiyah-Terkait merebaknya wacana pemisahan agama dan politik, telah menimbulkan berbagai pro dan kontra di tengah masyarakat. Wacana itu awalnya diungkapkan Presiden Jokowi saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Presiden Jokowi menyatakan bahwa antara agama dan politik harus dipisahkan.

Menyikapi hal itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah 1998-2005 Ahmad Syafii Maarif menyatakan bahwa agama seharusnya menjadi pemandu dalam berpolitik. Karena agama merupakan sumber nilai moral bagi semua aktivitas manusia, termasuk aktivitas berpolitik.

Baca Juga

Deni Asy’ari Tekankan Relevansinya Mengonsolidasikan Gerakan Ekonomi Berjamaah

Muhammadiyah Kritik DPR Langgar Keputusan MK

“Hubungan politik dan agama itu begini. Agama itu sumber moral. Agama harus menjinakkan politik agar politik itu berorientasi kepada keadilan, kepada persatuan, kepada kejujuran. Itu dari agama,” kata Buya Syafii Maarif diwawancarai di salah satu program TV swasta, Selasa (11/4).

Meskipun idealnya agama sebagai penuntun, namun dalam praktiknya justru digunakan sebagai kenderaan politik. “Tetapi yang terjadi sepanjang sejarah adalah agama digunakan untuk kenderaan politik. Ini yang tidak benar,” tutur Buya Syafii.

Baca: Haedar Nashir: Agama dan Politik Tidak Bisa Dipisahkan

Menurut Buya, ketika agama digunakan sebagai kenderaan berpolitik, maka akan terjadi perpecahan dan kekacauan serta lunturnya idealisme. Bagi Buya, merawat persatuan dan kesatuan bangsa itu adalah suatu hal yang mutlak, karena Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar. “Negara kepulauan sangat beragam,” katanya.  Termasuk dalam agama Islam sendiri sebagai agama terbesar di Indonesia. di dalamnya sangat beragam warna dan corak keagamaan.

Buya Syafii berharap semua pihak terus menjaga keragaman secara otentik, tidak hanya dalam wilayah wacana. Salah satunya dengan memperbanyak interaksi dan dialog dengan kalangan berbeda. “Kalau keragaman kita tidak dirawat itu ancaman bagi masa depan bangsa Indonesia, sangat serius ancaman itu,” kata Buya Syafii Maarif (Ribas/foto: Budi).

Tags: agamaBuya Syafii MaarifmuhammadiyahPolitik
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Deni Asy’ari Tekankan Relevansinya Mengonsolidasikan Gerakan Ekonomi Berjamaah
Berita

Deni Asy’ari Tekankan Relevansinya Mengonsolidasikan Gerakan Ekonomi Berjamaah

28 September, 2024
Prof Dr Abdul Mu'ti
Berita

Muhammadiyah Kritik DPR Langgar Keputusan MK

22 Agustus, 2024
Tingkatkan Taraf Hidup Rakyat, Muhammadiyah MoU dengan BCA Syariah
Berita

Tingkatkan Taraf Hidup Rakyat, Muhammadiyah MoU dengan BCA Syariah

2 Juli, 2024
Next Post
Hari Bermuhammadiyah di Padang Pariaman dan Cerita Kelahiran Muhammadiyah-Aisyiyah

Hari Bermuhammadiyah di Padang Pariaman dan Cerita Kelahiran Muhammadiyah-Aisyiyah

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In