• Disclaimer
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami
Sabtu, Maret 14, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

Guru Sejarah Bukan Guru Dongeng

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
29 Agustus, 2017
in Berita
Reading Time: 1 min read
A A
1
Guru Sejarah Bukan Guru Dongeng
Share

JAKARTA, Suara Muhammadiyah-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengharapkan para guru sejarah untuk terus meningkatkan kemampuan mengajarnya sesuai dengan kebutuhan zaman. Seorang guru sejarah harus memiliki beragam metodologi agar para siswa tidak merasa bosan saat mengikuti pelajarannya.

Menurutnya, guru sejarah bukan sekadar memberikan apa yang terjadi pada masa lalu, tetapi juga bisa mampu membangkitkan kecintaan terhadap tanah air, nasionalisme, dan rasa bela negara. Hal itu dikatakan Muhadjir dalam Ceramah Umum Kesejarahan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Senin 28 Agustus 2017.

Baca Juga

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

Muhadjir mengatakan, guru sejarah jangan berperan sebagai pendongeng. Guru sejarah harus mampu mengajak siswa untuk mengimplementasikan nilai-nilai sejarah dalam sebuah perilaku keseharian dengan mudah.

“Guru saat mengajar jangan monoton dengan satu jalur berkisah. Guru sejarah pada dasarnya bukan guru yang mendongeng. Tapi menciptakan suasana bagaimana anak-anak itu bisa menghayati sejarah. Sehingga bisa memerankannya pada masa kini. Peserta didik harus mengerti dan paham perjalanan sebuah bangsa, dari sejarah itu,” ujar Muhadjir.

Menurut Muhadjir, pelajaran sejarah harus mencerahkan dan menggembirakan bagi anak didik. Materi pelajaran sejarah yang ada saat ini juga perlu diperbaharui, sehingga mampu membangun etos dan semangat.

“Misalnya, dalam sejarah pangeran Diponegoro, perbanyak materi sisi kemenangan perlawanannya. Yang ada sekarang lebih banyak soal Diponegoro ditangkap VOC. Kesannya, perjuangan Diponegoro itu mudah dikalahkan, padahal banyak meraih kemenangan,” katanya.

“Saya selalu ingin mengembalikan bahwa sejarah itu punya makna. Aspek aksiologisnya, untuk apa belajar sejarah, itu yang lebih ditekankan. Bukan hanya faktanya, tapi pemanfaatan sejarah sebagai metode dan konten untuk menanamkan semangat perjuangan,” ungkap Muhadjir. Dengan demikian, pembelajaran sejarah membawa dampak lebih besar. Pada akhirnya, pembelajaran semacam ini akan membangun karakter peserta didik. (Ribas)

Tags: Muhadjir Effendymuhammadiyahsejarah
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu
Berita

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

11 Maret, 2026
Prof Abdul Mu’ti di Mata Para Kolega
Berita

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

11 Maret, 2026
Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara
Berita

Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara

11 Maret, 2026
Next Post
Forum LKSA Muhammadiyah Aisyiyah Kabupaten Tegal Nobar Film Nyai Ahmad Dahlan

Forum LKSA Muhammadiyah Aisyiyah Kabupaten Tegal Nobar Film Nyai Ahmad Dahlan

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In