SUDAN, Suara Muhammadiyah – Usai melantik kepengurusan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Sudan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengajak pengurus dan warga Muhammadiyah yang ada di Sudan ikut menopang program pusat keunggulan Muhammadiyah di luar negeri. Sebab dalam periode ini, menurut Haedar, Muhammadiyah fokus dan memprioritaskan membangun pusat-pusat keunggulan baik di dalam maupun luar negeri.
Untuk di luar negeri, Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah, mendirikan beberapa pusat keunggulan, di antaranya, Markaz Dakwah Muhammadiyah di Mesir, pembelian lahan seluas 10 Hektar di kawasan strategis di Australia untuk pembangunan Islamic Center, dan mendirikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Malaysia.
“Alhamdulillah dalam 2 tahun belakangan ini, kita sudah proses pembelian lahan di Moulborne Australia seluas 10 Hektar, pembangunan Markaz Dakwah Muhammadiyah di Mesir, dan izin mendirikan perguruan tinggi di Malaysia”, ungkapnya.
Baca juga: Haedar Nashir Kunjungi Mesir dan Sudan
Menurut Haedar, khusus untuk pembangunan Markaz Dakwah Muhammadiyah sudah selesai dilakukan, dan akan diresmikan pada hari Kamis (06/04). Sementara untuk izin pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah di Malaysia, juga sudah mengantongi izin dari pemerintahan setempat.
Semua program unggulan ini, lanjutnya, adalah bagian dari proses internasionalisasi pemikiran Muhammadiyah menjadi center of exelent. “Jadi keberadaan Pimpinan Cabang Istimewa ini, bukan saja sekedar mendirikan Muhammadiyah di luar negeri. Kalau untuk itu, kami sudah memiliki 18 Pimpinan Cabang Istimewa di luar negeri, namun selain itu, yang lebih utama adalah, bagaimana dengan keberadaan PCIM di luar negeri ini, bisa menginternasionalisasikan pemikiran Muhammadiyah secara global, sekaligus bisa menghadirkan pusat-pusat keunggulan baru di luar negeri”, tuturnya.
Oleh karena itu, Haedar mengajak, kepada pengurus PCIM di Sudan, untuk bisa menjadi penopang dalam menginternasionalisasikan pemikiran Muhammadiyah, sekaligus pusat-pusat keunggulan. Sebab dalam menghadapi era global saat sekarang ini, Muhammadiyah harus bisa menjadi “fa’il” atau subjek pelaku keunggulan. Sebaliknya, tidak menjadi umat yang kalah dan sekadar “maf’ul bih”. Karenanya, Muhammadiyah harus mendorong tumbuhnya inner dynamic dalam tubuh umat Islam, agar tidak gagap menghadapi perubahan.
“Umat Islam harus mampu menghadirkan inner dynamic sebagai subjek perubahan di era global ini. Jika tidak demikian, umat Islam akan merasa kalah dan merasa terpojok terus oleh perubahan, dan ujung-ujungnya nanti frustasi dan ngamuk-ngamuk”, tambah Haedar.
Sementara itu, Muhammadiyah Sudan sendiri sudah berdiri sejak tahun 2005 silam. Namun sesuai penuturan Muflihun Abdul Madjid sebagai ketua PCIM terpilih, baru saat ini, Pimpinan Pusat yang melakukan proses pelantikan secara langsung.
“Alhamdulillah, kami sangat bangga dengan kehadiran bapak Haedar dan rombongan PP Muhammadiyah bisa hadir di Sudan, karena sejak 2005, baru kali ini kami dilantik secara langsung. Dan insyaAllah, apa yang menjadi harapan dan arahan bapak Ketua Umum, akan menjadi PR untuk kami di Sudan, semoga kami amanah dan bisa menjalankannya”, ungkap pria asal NTB ini saat sambutan.
Baca juga: Haedar Nashir dan Menulis, Merajut Buah Karya untuk Peradaban
Hadir dalam kegiatan pelantikan PCIM tersebut antara lain Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Sudan dan negara Eretania, PCI NU Sudan, warga Muhammadiyah di Sudan. Dan turut mendampingi dalam kegiatan ini, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Bendahara PP Muhammadiyah Marpuji Ali, Rektor UM Surakarta Sofyan Anif, Wakil Rektor 2 UMS Sarjito, dan Direktur Korporat Suara Muhammadiyah Deni Asyari.
Keberadaan Ketua Umum di Sudan, akan berlangsung selama 2 hari, selain pelantikan PCIM Sudan, juga bertemu dengan Duta Besar Sudan, Pimpinan Perguruan Tinggi di Sudan, serta cendikiawan Islam di Sudan. (red)






