BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah – Di usia yang relatif sangat muda, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) telah mampu menunjukkan sebuah contoh dari peradaban yang maju. Bahwa Islam adalah agama yang memiliki daya hidup yang menghidupkan. “UMB adalah salah satu contohnya. Tentu semangat yang tinggi ini lahir dari karakter kepemimpinan Rektor yang merintis dengan itikad yang kuat dan juga visi yang besar,” tutur Haedar saat diwawancarai pasca peresmian Gedung Ahmad Azhar Basyir dengan konsep Kampus Apung milik UMB di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Oleh karena itu, Haedar menilai upaya yang dilakukan oleh UMB ini patut menjadi inspirasi bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) lainnya yang masih berusia muda. Bahwa PTM yang baru merintis tersebut di kemudian hari akan besar dan mampu memiliki kampus sendiri. Menurut Haedar harus ada kekuatan mimpi untuk menyebar luaskan visi Islam berkemajuan. “UMB ini adalah kampus visi masa depan. Di atas lahan yang cukup luas dan fisik bangunan yang bagus. Segala sesuatu itu tergantung dari kekuatan tekad dan memang di dalamnya harus ada mimpi besar,” lanjut Haedar.
Jika berbicara mengenai spirit Islam berkemajuan, bagi Haedar bentuk dari ‘kemajuan’ itu adalah seperti apa yang dilakukan oleh UMB sendiri. Dengan adanya kebersamaan dan bangun sistem yang baik maka ke depan UMB akan menjadi universitas yang dibangun atas landasan kualitas. “Lebih jauh lagi seperti yang selalu saya katakan bahwa Islam itu harus dicontohkan, harus kita hadirkan, bukan hanya jargon dan panggung para tokoh yang tidak dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Kerjasama yang dijalin antara pemerintah Kerajaan Saudi Arabia dengan UMB sendiri dinilai Haedar merupakan kerjasama yang kongkrit. Pemerintah Saudi sendiri rencananya akan menyumbangkan 3 miliar untuk pembangunan masjid Ulil Albab yang di hari yang sama dilakukan peletakan batu pertamanya di area kampus apung UMB.
“Ini merupakan kerjasama yang kongkrit karena Duta Besar melihat secara langsung bahwa Muhammadiyah itu berbeda dari yang lain, mungkin walaupun dari segi jumlah tidak sebanyak yang lainnya, tapi kualitas gerakan kita adalah yang terdepan,” imbuh Haedar.
Kerjasama yang akan dirintis bersama pemerintah Arab Saudi di antaranya adalah melalui pemberian beasiswa dan berbagai macam program yang bisa saling memajukan satu sama lainnya.
“Mau tidak mau, Indonesia dan Muhammadiyah memerlukan pihak-pihak lain seperti Saudi dan juga Negara lainnya. Saudi, Mesir dan Negara lainnya butuh Indonesia. Di era dengan peradaban yang modern ini seperti ini, saling menegatifkan madzhab satu dengan lainnya, satu bangsa dengan bangsa lainnya, juga satu pandangan satu dengan pendangan lain. Karena umat Islam dibangun di atas kekuatan besar yang saling menopang,” tandas Haedar. (Th)
