• Disclaimer
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami
Sabtu, Maret 14, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

Hargai Kepakaran, Pakar jangan Arogan

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
17 Januari, 2019
in Berita
Reading Time: 1 min read
A A
1
Share

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Ketua Umum PP Muhammadiyah 1998-2005 Prof Ahmad Syafii Maarif mengajak warga bangsa untuk menyadari realitas yang berubah. Saat ini, dunia dijangkiti suatu era pasca kebenaran secara massif.

Asalkan sesuai dengan kecenderungan pribadi dan dekat secara emosi, akan dianggap sebagai kebenaran, tanpa dikonfirmasi lagi. “Pasca kebenaran, orang tidak lagi berpegang pada kebenaran, fiksi lebih dipercaya,” tuturnya di Grha Suara Muhammadiyah.

Baca Juga

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

Buya Syafii merekomendasikan buku The Death of Expertise karya Tom Nichols yang mengulas tentang matinya kepakaran di era ini. “Kepakaran atau otoritas itu perlu dihargai. Tapi para pakar jangan sombong dan arogan, apalagi bersekongkol dengan penguasa,” ungkapnya. Ketika para pakar arogan, maka publik menjadi tidak percaya.

Dalam Qur’an, dikatakan, “Bertanyalah pada ahlinya jika kamu tidak tahu.” QS. An-Nahl [16] ayat 43 ini menjadi legitimasi bahwa Islam menghargai otoritas dan kepakaran. Orang yang ahli di bidang tertentu harus didengarkan. “Kita harus critical. Jika tidak punya ilmu, jangan ikut-ikutan. Jangan taklid,” ulasnya. Apalagi menelan mentah-mentah informasi di media sosial.

Kadang ketika berkaitan dengan syahwat kekuasaan, orang menjadi tidak waras, dan menghalalkan segala cara untuk membela kepentingannya. Bahkan memaksa Tuhan berpihak padanya. “Otoritas kebenaran menjadi kacau. Saya khawatir lama-lama orang sudah tidak lagi percaya dokter, lebih percaya google, percaya dukun,” katanya.

Dalam kondisi seperti ini, kebenaran menjadi seolah kabur. Terlebih ketika kebohongan yang diulang-ulang, kelak dipercaya sebagai kebenaran. “Dalam agama, ada ayat bahwa kalau kebenaran sudah datang, maka yang batil itu menjadi lenyap,” ujarnya. (ribas)

Ulasan selengkapnya tentang: era pasca kebenaran, infobesitas, dan matinya kepakaran, bisa disimak di Majalah Suara Muhammadiyah edisi nomor 2 tahun 2019

Baca juga:

Dakwah Digital: Narasi Alternatif Muhammadiyah

Narasi Alternatif di Dunia Virtual

Tags: era pasca kebenarankepakaranmuhammadiyah
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu
Berita

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

11 Maret, 2026
Prof Abdul Mu’ti di Mata Para Kolega
Berita

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

11 Maret, 2026
Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara
Berita

Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara

11 Maret, 2026
Next Post

Agar Otak Tak Kalah Cepat dengan Jempol

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In