• Tentang SM
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami
Sabtu, Januari 10, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

Tanggapan Din Syamsuddin Terkait Penghapusan Istilah Kafir

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
6 Maret, 2019
in Berita
Reading Time: 1 min read
A A
1
Tanggapan Din Syamsuddin Terkait Penghapusan Istilah Kafir

Dok Istimewa

Share

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Ketua Dewan Pertimbangan MUI menanggapi terkait tidak digunakannya lagi istilah kafir bagi non Muslim. Menurutnya, penggunaan kata Kafir ini harus sesuai konteks dan didasari dengan sikap toleransi, bukan sebagai hinaan yang dapat menyakiti hati orang lain namun juga jangan dihapus begitu saja.

“Istilah Kafir itu berkali-kali di sebutkan dalam Kitab suci namun juga harus di pahami dengan konteks dan juga Tasamuh (toleransi). Karena itu kitab suci, kita tidak mungkin meng-amandemen, janganlah istilah itu dipakai secara peyoratif (memperburuk) dan apalagi untuk menghina orang lain apalagi oarang lain tidak berkenan,” ungkapnya saat diwawancarai usai acara Pengajian Akbar PKU Muhammadiyah Gamping, Sabtu(2/3).

Baca Juga

Deni Asy’ari Tekankan Relevansinya Mengonsolidasikan Gerakan Ekonomi Berjamaah

Muhammadiyah Kritik DPR Langgar Keputusan MK

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu juga menambahkan, bahwa setiap agama memiliki istilah dan konsep masing-masing dalam perbedaan keimanan, seperti istilah mukmin sebagai orang yang beriman  dan kafir bagi yang tidak beriman dalam Al Qur’an, begitu juga dengan agama lain.

“Sebenarnya semua agama punya konsep teologis tentang The others and the otsiders, seperti Islam dan orang di luar islam, Kristen orang di luar Kristen dan agama lainya,” paparnya.

Din berpesan, Karena hal ini bersifat fatwa maka ini tidak harus di ikuti dan dalam penggunaan istilah itu harus dengan kearifan, mengingat masyarakat indonesia adalah masyarakat yang majemuk, dimana hal ini sangat sensitif jika disalah gunakan.

“Maka pesan saya, jangan mengubah keberadaan istilah-istilah itu dalam kitab suci, tapi harus ada kearifan dalam menggunakannya termasuk dalam konteks di Indonesia, janganlah menggunakan istilah itu dalam penghinaan,” ucapnya.

Din mengingtakan, karena saat ini adalah tahun politik di takutkan hai ini digunakan untuk ujaran kebencian antar kelompok yang berbeda pandangan politik. Din juga mengajak, baiknya  perdebatan dalam politik di isi dengan argumen yang subtantif.

“Dalam politik identitas ujaran seperti itu tak terelakkan, bahkan di Indonesia dalam rangka pilpres yang akan datang sudah ada ujaran kebencian yang menisbatkan manusia lain dengan binatang, itu mendegradasi harkat dan martabat manusia,” pungkas Din. (afn)

Tags: Din SyamsuddinmuhammadiyahPolemik Istilah Kafir
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Deni Asy’ari Tekankan Relevansinya Mengonsolidasikan Gerakan Ekonomi Berjamaah
Berita

Deni Asy’ari Tekankan Relevansinya Mengonsolidasikan Gerakan Ekonomi Berjamaah

28 September, 2024
Prof Dr Abdul Mu'ti
Berita

Muhammadiyah Kritik DPR Langgar Keputusan MK

22 Agustus, 2024
Tingkatkan Taraf Hidup Rakyat, Muhammadiyah MoU dengan BCA Syariah
Berita

Tingkatkan Taraf Hidup Rakyat, Muhammadiyah MoU dengan BCA Syariah

2 Juli, 2024
Next Post
Musa Kembali ke Mesir

Musa Kembali ke Mesir

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In