• Disclaimer
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami
Sabtu, Maret 14, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

Haedar Nashir: Spirit Pencerahan Harus Diaktualisasikan

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
17 Juni, 2019
in Berita
Reading Time: 1 min read
A A
0
Share

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menjadi pembicara kunci pada Silaturrahmi Keluarga Besar Unisa Yogyakarta, Senin (17/06). Dalam kesempatan ini, Haedar menyampaikan pentingnya aktualisasi spirit pencerahan oleh warga Muhammadiyah sebagai wujud perannya dalam berorganisasi.

Peran tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan, bisa dioptimalkan dengan, pertama, mengamalkan spirit ikhlas dalam berbagai aktivitas. Yaitu melakukan sesuatu karena diniatkan untuk beribadah dan mengharap keridhaan Allah semata. “Karena orientasinya Allah semata, maka menjalankan aktivitas bisa dengan nyaman dan lepas. Itu berarti sudah tercerahkan,” terangnya.

Baca Juga

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

Kedua, lanjutnya, spirit pencerahan untuk membangun karakter yang berkualitas taqwa. Yaitu dengan selalu belajar menjadi uswah hasanah. “Apa itu uswah hasanah?Selaras kata dan perbuatan,” sebut Haedar.

Menurut Haedar, persoalan menjadi uswah hasanah itu menjadi penting, sebab umat Islam agak kedodoran dalam hal ini. “Terlebih di Indonesia, muslim menjadi mayoritas tapi kualitasnya justru rendah, justru melakukan korupsi,” sesal Haedar.

Paling mencolok sebutnya, adalah akhlak dalam bermedia sosial. Apalagi sekarang media sosial menjadi ajang paling bebas untuk berekspresi. Parahnya lagi, adalah ketika media sosial berbaur dengan politik, makin garang dan jauh dari moral. “Mari kita melakukan pencerahan dalam bermedsos, sebagai bagian dari uswah hasanah,” ajak Ketum PP Muhammadiyah ini.

Ketiga, memiliki kultur keilmuan. Kata Nur, Haedar menjelaskan,  juga bisa dimaknai aqlu an-niyar, akal yang tercerahkan. Dalam bahasa al-Qur’an disebut dengan ulul albab. Yitu, berkata dan berbuat berdasarkan ilmu, sebab semangat iqra sudah menjadi budaya. “Di antara ciri orang berilmu ialah kritis dan objektif, dan sepertinya Indonesia masih jauh dari itu,” ucapnya.

Keempat, membangun kebersamaan yang dinamis, dan kelima, pungkasnya, “Berkontribusi untuk kesejahteraan umat dan bangsa.” (gsh)

Tags: Haedar NashirmuhammadiyahUnisa
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu
Berita

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

11 Maret, 2026
Prof Abdul Mu’ti di Mata Para Kolega
Berita

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

11 Maret, 2026
Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara
Berita

Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara

11 Maret, 2026
Next Post
Dosen UMM Berpartisipasi dalam Riset Kaliber Dunia

Dosen UMM Berpartisipasi dalam Riset Kaliber Dunia

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In