Pengajian Tarjih ke-71: Sihir dan Kekafiran Orang Yahudi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Pengajian Tarjih edisi ke-71 di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, 25 Desember 2019, melanjutkan bahasan Tafsir At-Tanwir. Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Dr H Hamim Ilyas MAg membahas Surah Al-Baqarah ayat 102-103 tentang sihir dan keingkaran orang Yahudi.

Hamim memaparkan bahwa Al-Baqarah: 102 merupakan kelanjutan dari Al-Baqarah: 101, yang menjelaskan bahwa setelah kedatangan Nabi Muhammad, sebagian orang yang telah diberi kitab suci (Yahudi) melemparkan kitab Allah ke belakang punggung mereka. “Mereka tidak berpedoman pada kitab suci mereka. Dalam Al-Maidah: 44 dinyatakan bahwa dalam Taurat itu ada petunjuk menuju jalan yang lurus, jalan hidup yang mudah, tercepat dan terdekat menuju tujuan. Taurat juga mengandung nur atau cahaya, jalan hidup menuju terang yang berlandaskan pada kejujuran.”

“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul (Muhammad) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah itu ke belakang (punggung), seakan-akan mereka tidak tahu.” (Al-Baqarah: 101)

Menurut Hamim, orang Yahudi dulu menyikapi Nabi Muhammad dengan tanpa kejujuran, dipenuhi oleh kepentingan. Mereka mengikuti setan di masa Nabi Sulaiman. Selain tidak mempedomani Taurat, mereka juga mempedomani setan. Setan bukan hanya makhluk halus yang buruk, Al-An’am: 112 menyebut setan dari golongan manusia dan jin. Setan dari golongan jin maupun manusia adalah kekuatan jahat yang anti pada manusia, sebagai musuh yang nyata. Manusia seharusnya menegakkan kebaikan dan kebenaran.

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia yaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.” Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu.” (Al-Baqarah: 102)

Orang-orang Yahudi yang menentang Nabi Muhammad itu mengikuti setan yang berwujud manusia. Tafsir yang lain, kata Hamim, menyebut setan dari kalangan manusia dan jin pada masa kerajaan Nabi Sulaiman, hidup 900 tahun SM. Ada bacaan yang diajarkan oleh setan ini di masa Nabi Muhammad diikuti oleh Yahudi. Apa yang dibaca oleh setan dan diikuti oleh Yahudi itu adalah sihir yang diajarkan setan yang kafir. Dalam Tasawuf, Nabi Sulaiman menjadi salah satu inspirasi selain Nabi Isa dan Nabi Khidir.

“Orang Yahudi percaya bahwa sihir yang bersumber dari setan itu, berasal dari Nabi Sulaiman. Ayat ini menjelaskan bahwa Sulaiman itu tidak kafir, tidak mengajarkan sihir. Nabi Sulaiman mengajarkan kerohanian yang sejati,” ulas Hamim Ilyas yang juga dosen UIN Sunan Kalijaga.

Sihir dimaknai secara bahasa sebagai pengelabuan terhadap pikiran, pandangan mata, dan perasaan. Seperti halnya tukang sihir Fir’aun yang membuat tali kelihatan seperti ular. Sihir itu manipulasi atau permainan pikiran. Secara istilah, sihir itu menunjuk ke manifestasinya, berupa permainan pikiran, jimat, mantra, yang berpengaruh terhadap badan dan hati. Dalam bahasa kita sering disebut hipnotis. Nabi Sulaiman tidak mengajarkan itu.

“Nabi Sulaiman dan semua Nabi itu berperan dalam pembangunan peradaban (penyelenggaraan kehidupan yang baik), tidak hanya mendakwahkan agama. Nabi Sulaimam membangun peradaban yang rasional, tidak mistis. Tidak menggunakan sihir.” Sihir itu berhubungan dengan kekafiran, dalam bentuk: bacaan, perilaku, dan akibat yang ditimbulkan.

Sekelompok orang Yahudi yang mengingkari Nabi Muhammad juga mengikuti dua “malaikat” di Babilonia (1900 tahun SM): Harut dan Marut, yang diberi kemampuan sihir. Ada riwayat yang menyatakan, Harut dan Marut mulanya merupakan malaikat. Suatu ketika, malaikat di langit heran pada manusia yang tidak mau bersyukur meskipun telah diberi bermacam nikmat oleh Allah. Kata Allah, “Kamu tidak tahu rasanya jadi manusia. Jadi manusia itu, godaannya berat. Kalau tidak percaya, pilihlah dua malaikat terbaik di antaramu, akan Aku utus ke dunia.” Dipilihlah Harut dan Marut. Keduanya yang semula suci ketika turun ke dunia menjadi kotor, karena tidak kuat menghadapi godaan.

Dalam Tafsir Qurtubi yang diikuti Tafsir At-Tanwir, setan manusia yang dimaksud ayat ini adalah setan yang masyhur di Babilonia. Adapun sebutan malaikat pada ayat itu menunjuk pada persepsi orang Yahudi Madinah pada Harut dan Marut ketika itu. Ketika mengajarkan sihir, Harut dan Marut mampu mengelabui orang-orang bahwa apa yang diajarkan itu tidak baik, jangan diikuti, nanti menjadi kafir. Namun justru orang tidak peduli. “Keahlian Harut dan Marut adalah mengajarkan sihir yang bisa membuat pasangan suami-istri berpisah. Dalam bahasa kita, cinta ditolak, dukun bertindak.”

Ayat ini selanjutnya memberi pesan bahwa setan-setan manusia itu tidak bisa menimbulkan mudharat apa-apa, kecuali atas izin Allah. Dalam sebuah hadis, ungkap Hamim, Nabi Muhammad pernah kena sihir dari orang Yahudi, yang menggunakan rambut dan gigi sisir Nabi yang rontok. Namun, Nabi segera sadar dan menggali sihir yang ditanam di sumur itu.

“Dan jika mereka beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik, sekiranya mereka tahu.” (Al-Baqarah: 103)

Hamim menyatakan bahwa ayat ini menjelaskan tentang keberagamaan yang seharusnya dijalankan. “Dulu, ada keberagaam yang mistis. Sekarang, kebanyakan keberagamaan yang formalistis. Ayat ini menjelaskan bahwa keberagamaan yang baik itu adalah keberagamaan yang etis,” tuturnya. Keberagaman yang etis itu berlandaskan pada iman dan takwa.

Iman itu adalah kepercayaan yang membebaskan dari hawa nafsu, berupa dorongan-dorongan yang ada di dalam diri manusia untuk melakukan keburukan-keburukan, yang dengannya manusia tidak bisa menjadi khalifah Allah. Termasuk hawa nafsu ini adalah kemalasan. Adapun takwa, menurut Hamim, secara umum itu bermakna menjaga diri dari semua mudharat yang ditimbulkan. (ribas)

Baca juga:

Pengajian Tarjih 70: Cadar dalam Perspektif Manhaj Tarjih

Pengajian Tarjih 32: Perumpamaan Al-Qur’an dan Sikap Manusia

Pengajian Tarjih 14: Bagaimana dan Kemana Tujuan Hidup Manusia?

Exit mobile version