• Disclaimer
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami
Sabtu, Maret 14, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

Maaf

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
21 Mei, 2020
in Motivasi
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Maaf
Share

Oleh : Bagus Kastolani

Kapan terakhir kali kita meminta maaf atau memaafkan orang lain? Oh, sebentar lagi lebaran kok… jadi bisa minta maaf atau memaafkan. Jadi minta maaf dan memaafkan hanya setahun sekali. Padahal dosa dan khilaf kita sebagai manusia selalu bertambah dari menit ke menit. Terlalu lama dan terlalu menumpuk kesalahan kita jika meminta maaf hanya setahun sekali.

Baca Juga

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

Atau, saat pertanyaan itu saya lempar kepada seseorang yang pernah disakiti oleh orang lain dan saya tanyakan, “Bisakah kamu memaafkannya?” Hampir sebagian besar menjawab: (1) Enak saja, dia yag menyakiti saya harus menerima balasan yang setimpal dulu, baru saya maafkan; (2) Sudah terlalu sakit hati ini dibuatnya. Biarlah waktu yang akan mengobatinya; (3) Orang lain tidak bisa mengobati hatiku yang terlanjur sakit. Biarlah Tuhan yang mengobati hatiku. Tidak ada gunanya dia minta maaf kepadaku.

Inilah tiga jawaban terbanyak ketika ditanyakan kepada orang lain yang pernah tersakiti oleh orang lain. Rupanya ini gambaran orang yang belum bisa memaafkan orang lain dan move on kepada kehidupan yang lebih baik. Tiga jawaban tersebut juga menggambarkan bahwa memaafkan itu ternyata lebih sulit daripada meminta maaf.

Kenapa orang sulit memaafkan? Seorang tokoh Psikologi yang bernama Sigmund Freud menyatakan bahwa kejadian yang menorehkan luka menyebabkan trauma (traumatic event) yang membekas dan mengganggu kehidupan selanjutnya. Oleh karena itu, seseorang yang tersakiti harus berani kembali kepada kejadian tersebut dan mengakhirinya dengan memaafkan maka ia akan seperti orang yang baru dilahirkan. Coleman (2001) menyatakan bahwa beban berat bagi orang yang pernah tersakiti dan tidak memaafkan karena ia akan selalu terbayangi dengan kejadian masa lalu serta mengganggu aktivitas hidupnya. Sulit memaafkan? Beranilah untuk kembali pada kejadian itu, selesaikan dengan cara memaafkan maka insyaallah Allah SwT akan membalas dengan kebaikan segala ikhtiar kita untuk memaafkan orang lain. Setelah memaafkan, siapakah sekarang yang mempunyai hati paling tenang?

Staf pengajar Fakultas Psikologi UNAIR Surabaya, Kader Muhammadiyah.

Tags: Maafmotivasimuhammadiyah
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu
Berita

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

11 Maret, 2026
Prof Abdul Mu’ti di Mata Para Kolega
Berita

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

11 Maret, 2026
Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara
Berita

Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara

11 Maret, 2026
Next Post
Pengalaman beragama yang unik: Gara-Gara Sebuah Hadits

Tatanan Kehidupan Baru Pasca Pandemi Corona

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In