Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

Dr Anwar Abbas, MM., MAg

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menggelar kegiatan Tadarus Lingkungan pada Rabu, 11 Maret 2026, melalui platform Zoom. Kegiatan ini mengangkat tema “Green Hajj sebagai Solusi untuk Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu” dan menghadirkan sejumlah narasumber dari Muhammadiyah, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), serta Kementerian Lingkungan Hidup.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Buya Anwar Abbas, menegaskan bahwa persoalan sampah di Indonesia sudah sangat meresahkan dan perlu diselesaikan mulai dari hulu, yakni dari tingkat rumah tangga.

“Masalah sampah sangat meresahkan. Kalau kita berbicara dari hulu, maka itu berarti dari rumah tangga. Salah satu yang terpikir oleh saya adalah bagaimana sampah itu bisa diolah dengan bantuan bakteri sehingga bisa menjadi kompos,” ujar Buya Anwar Abbas.

Ia juga mendorong Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah untuk menyusun panduan praktis bagi masyarakat dalam mengelola sampah secara sederhana di tingkat rumah tangga.

“MLH bisa membuat buku yang mengajarkan warga bagaimana mengolah sampah dengan bakteri sehingga sampah bisa diubah menjadi kompos. Ini penting agar masyarakat memiliki pengetahuan dan budaya baru dalam mengelola sampah,” tambahnya.

Buya Anwar Abbas juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dalam kehidupan manusia.

“Kita harus menjaga keseimbangan alam. Dalam kehidupan itu ada mata rantai makanan dan keseimbangan ekosistem yang harus dijaga,” jelasnya.

Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, M. Azrul Tanjung, dalam kesempatan yang sama menjelaskan bahwa dalam empat tahun terakhir MLH Muhammadiyah telah menjalankan berbagai program lingkungan, termasuk penanaman pohon dan mangrove.

“Dalam empat tahun ini MLH sudah melakukan berbagai kegiatan lingkungan, mulai dari penanaman mangrove hingga pohon-pohon produktif yang jumlahnya sudah mencapai sekitar 13.000 pohon,” katanya.

Azrul juga mengungkapkan bahwa isu pengelolaan sampah kini menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk pemerintah.

“Saya juga sudah dipanggil oleh Kementerian Pendidikan Tinggi untuk membahas peran Perguruan Tinggi Muhammadiyah dalam pengelolaan sampah. Sampah memang sudah sangat darurat sebagaimana disampaikan Buya, karena masyarakat kita belum memiliki budaya pengelolaan sampah yang baik,” ujarnya.

Menurutnya, MLH Muhammadiyah juga tengah mengembangkan konsep Haji Hijau (Green Hajj) dan telah menjalin kerja sama dengan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

Anggota BPKH RI, Harry Alexander, menjelaskan bahwa konsep Green Hajj bertujuan membangun kesadaran lingkungan bagi jemaah haji agar menjadi haji mabrur yang memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan sepanjang hayat.

“Jemaah haji perlu melakukan wakaf pohon untuk melakukan carbon offsetting dari emisi CO₂ yang dihasilkan selama perjalanan ibadah haji,” jelas Harry.

Ia menambahkan bahwa wakaf pohon tersebut dapat dilakukan melalui skema investasi berbasis sukuk yang juga memberikan manfaat ekonomi bagi umat.

“Pohon yang ditanam bisa berupa tanaman konservasi maupun tanaman budidaya. Misalnya kita membeli 100 hektar lahan yang ditanami kelapa, maka setiap bulan bisa menghasilkan sekitar 40 juta rupiah. Selain manfaat ekonomi, kita juga mendapatkan manfaat biodiversitas,” ujarnya.

Harry juga menyampaikan bahwa buku Panduan Green Hajj yang telah disusun bersama MLH PP Muhammadiyah akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Arab agar dapat menjadi referensi internasional.

“Buku Panduan Green Hajj akan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan Arab. Ini akan menjadi contoh dari Indonesia bagi dunia internasional,” tambahnya.

Sementara itu, Staf Ahli Kementerian Lingkungan Hidup, Hanifah Dwi Nirwana, menyampaikan bahwa persoalan sampah di Indonesia masih menjadi tantangan besar.

“Indonesia baru sekitar 25 persen sampah yang terkelola, sementara sekitar 65 persen masih belum terkelola dengan baik. Ini menjadi target nasional yang harus kita selesaikan bersama,” katanya.

Menurut Hanifah, pemerintah membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah.

“Kementerian Lingkungan Hidup membutuhkan kerja sama dengan semua pihak, termasuk Muhammadiyah. Kami juga telah mengembangkan berbagai teknologi pengolahan sampah, baik untuk sampah plastik maupun sampah organik,” jelasnya.

Ia juga menilai bahwa ibadah haji dapat menjadi laboratorium sosial dalam membangun perilaku ramah lingkungan.

“Haji bisa menjadi laboratorium perilaku dalam pengelolaan sampah, apalagi jemaah haji Indonesia merupakan yang terbesar di dunia,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gatot Supangkat menegaskan bahwa dimensi spiritual dalam ibadah haji harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan.

“Haji merupakan spiritualitas yang harus diiringi dengan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.

Melalui kegiatan Tadarus Lingkungan ini, Muhammadiyah berharap konsep Green Hajj tidak hanya menjadi gagasan, tetapi juga menjadi gerakan nyata dalam membangun kesadaran lingkungan di kalangan umat Islam, sekaligus menjadi kontribusi Indonesia bagi pengelolaan lingkungan global.

Exit mobile version