JAKARTA, Suara Muhammadiyah—Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti menyatakan bahwa persyarikatan Muhammadiyah bersikap netral dalam pelaksanaan pilkada di seluruh Indonesia. Termasuk dalam Pilkada DKI Jakarta yang menyita perhatian banyak kalangan. Secara kelembagaan, Muhammadiyah memberikan kebebasan kepada para konstituennya untuk menentukan pilihan secara bebas, bertanggung jawab dan menghargai perbedaan pilihan.
“Kami membuka diri. Organisasi ini memberikan kebebasan politik kepada anggotanya. Jadi silahkan (para calon) menjalin komunikasi, merebut hati (konstituen) Muhammadiyah,” ujar Abdul Mu’ti usai kunjungan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Agus Yudhoyono-Sylviana Murni di kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Jl Menteng Raya, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (7/10). “Ini silaturahim biasa. Muhammadiyah hanya menyampaikan pesan moral agar dalam bersaing secara demokratis, elegan dan bermartabat,” ujar Mu’ti
Meskipun memberikan kebebasan penuh kepada para anggota dan warganya, ungkap Abdul Mu’ti, Muhammdiyah memberikan kriteria pemimpin yang layak dipilih. Dalam sebuah sidang tanwir Muhammadiyah, telah dikeluarkan rekomendasi mengenai kriteria pemimpin bangsa. Diantaranya, sebut Mu’ti adalah mereka yang memiliki integritas, visioner, solidarity maker, problem solver, nasionalis-humanis, uswah (teladan), dan syaja’ah (berani membela kebenaran), serta meneladani sifat Nabi (shiddiq, amanah, tabligh, fathanah).
Penekanan pada sikap keteladanan (uswah) merupakan yang utama, karena masyarakat membutuhkan figure yang bisa dijadikan contoh. Bagi Muhammadiyah, pemimpin itu bukan hanya berwacana, namun senantiasa bekerja meskipun tidak diliput media. “Keteladanan itu jauh lebih penting. Berani tidak cukup kalau tidak bisa jadi contoh. Termasuk, teladanan lebih penting dari pembangunan fisik,” papar Abdul Mu’ti (Ribas).
