SLEMAN, Suara Muhammadiyah-Kegiatan Latihan Instruktur Dasar (LID) IMM Kabupaten Sleman dengan Tema “Meneguhkan Spirit Perkaderan Ikatan dalam Mewujudkan Rumah Perkaderan Idaman” menghadirkan pemateri Dr H Robby Habiba Abror SAg MHum. Ketua Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga itu memaparkan materi aktual tentang “Filsafat Pendidikan Muhammadiyah.”
Filsafat Pendidikan Muhammadiyah, ujar Robby merupakan salah satu wujud pentingnya basis paradigmatik dan konstruksi filosofis dalam pendidikan Muhammadiyah. “Filsafat dapat dioperasikan sebagai objek formal dalam meneropong dan membingkai ulang pendidikan Muhammadiyah,” ujar Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (MPI PWM DIY) itu.
Robby, yang juga aktif sebagai tim asistensi Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah itu menilai bahwa potret pendidikan di Indonesia saat ini sangatlah miris terutama jika dilihat dari sistem dan produk pendidikan yang outputnya sebagian masih jauh dari nilai-nilai moral dan buram dari keindahan. Terjadinya insiden tawuran antar pelajar atau antar sekolah, terlibat dalam gank, pergaulan bebas, pelajar yang merokok, dan berbagai bentuk wajah penggerusan akhlak lainnya. Kenyataan tersebut secara mendasar disebabkan rapuhnya bangunan etis pada pola kebijakan dan strategi pendidikan di Indonesia.
Atas dasar permasalahan tersebut, Robby menegaskan kepada para kader dan calon instruktur IMM Sleman yang nantinya akan menjadi pembimbing, motivator dan pendidik itu diingatkan agar memperhatikan secara serius aspek bangunan etis tersebut sehingga diharapkan dapat mewujudkan sistem rumah pengkaderan yang berlandaskan pada nilai-nilai etis sekaligus estetis. Etis berarti bahwa pondasi iman dan Islam yakni akhlak atau moralitas harus sungguh-sungguh diperhatikan atau dikukuhkan. Estetis berarti bahwa etos ihsan dimanifestasikan dalam mengkonstruksi spirit pendidikan menjadi lebih humanis dan religius.
Hal itu setidaknya dapat direalisasikan melalui beberapa tahapan filosofis di antaranya yaitu berani melakukan redefinisi, reformulasi, reaktualisasi, rekonstruksi dan revitalisasi terhadap konsep-konsep penting dalam konstruksi pendidikan Muhammadiyah yang selama ini telah dijalankan dengan baik agar menjadi lebih berkemajuan serta merekonseptualisasikan ideologi pendidikan Muhammadiyah dalam menjawab kebutuhan umat dan tantangan jaman.
Selain itu, ketua bidang pengkaderan IMM Sleman, berharap agar peserta LID mengetahui paradigma dalam Muhammadiyah, yang nantinya akan dapat mengonsep sistem pengkaderan yang lebih elegan dan fundamental (Joko).






