• Disclaimer
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami
Sabtu, Maret 14, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

Trump Membuka Kotak Pandora Konflik Palestina-Israel

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
8 Desember, 2017
in Berita
Reading Time: 1 min read
A A
1
Tiga Agenda Penting 2017 Menurut Haedar Nashir

sumber foto: liputan6

Share

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir, menilai keputusan Amerika Serikat (AS) mengakui sepihak status Yerusalem sebagai ibukota Israel telah membuka kotak pandora konflik. Pengakuan yang menuai kontroversi itu dikemukakan Presiden AS Donald Trump. Bahkan, Trump menyatakan akan segera memindahkan keddutaan besar AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Trump secara sadar membuka kotak pandora konflik Palestina-Israel dengan gegabah. Padahal, dia dan AS mestinya tahu persis bahwa di antara titik yang paling menjadi sumber sengketa-politik abadi di Timur Tengah itu, soal Yerusalem yang diperebutkan,” jelas Haedar ketika ditemui di PP Muhammadiyah Cik Ditiro pada Kamis (7/12)

Baca Juga

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

Menurut Haedar, keputusan Trump kian menguatkan kecenderungan ultra-konservatif dalam politik luar negeri AS terhadap Palestina. Dengan perkataan lain, rezim Trump menunjukkan pembelaannya secara terbuka terhadap Israel. Hal ini tentu berpengaruh pada peta politik Timur Tengah dan dunia.

“Padahal kita sudah mengetahui telah 70 tahun konflik Israel dan Palestina belum ada titik temu, namun setidaknya belakangan sudah ada proses mencair, yang mungkin kedepan masing-masing bisa mengakui eksistensinya dan kemudian dapat membangun perdamaian,” ungkap Haedar.

Ia juga memberi masukan kepada PBB untuk memberikan pandangan agar rencana politik ugal-ugalan tersebut dibatalkan dan tidak boleh diteruskan. Langkah PBB dan dunia dianggap paling relevan dan efektif menekan keinginan AS di bawah rezim Trump.

“Apakah AS tidak ingin menyaksikan Timut Tengah yang damai dan kondusif? Jika rencana pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem itu diwujudkan, maka akan memicu konflik politik baru di kawasan itu (Timur Tengah),” urai Haedar.

Yerusalem sendiri sampai saat ini masih menjadi kota suci yang diklaim oleh tiga agama samawi; Islam, Yahudi, Kristen. Sebelumnya, kota ini diakui sebagai kota internasional. Oleh karena itu, pengakuan sepihak AS juga menimbulkan reaksi keras dari Pemimpin Katolik Paus Franciscus. (Syada/Ribas)

Tags: Donald TrumpHaedar NashirIsraelmuhammadiyahPalestina
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu
Berita

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

11 Maret, 2026
Prof Abdul Mu’ti di Mata Para Kolega
Berita

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

11 Maret, 2026
Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara
Berita

Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara

11 Maret, 2026
Next Post
Refleksi 25 Tahun Perbankan Syariah, Majelis Tarjih Gelar Seminar Nasional

Refleksi 25 Tahun Perbankan Syariah, Majelis Tarjih Gelar Seminar Nasional

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In