• Tentang SM
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami
Senin, Januari 12, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

Menelusuri Kiprah dan Perjuangan Ir Djoeanda di Jawatan Kereta Api

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
14 Januari, 2020
in Wawasan
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Menelusuri Kiprah dan Perjuangan Ir Djoeanda di Jawatan Kereta Api
Share

Menteri Marathon. Djoeanda pernah menjabat sebagai 14 kali sebagai menteri dan sekali menjabat Perdana Menteri. Hal inilah yang melatarbelakangi Djoeanda dijuluki ‘Menteri Marathon’.  Salah satunya sebagai menteri keuangan. Berkat jasa dan andil besar demi kemerdekaan, Djoeanda Kartawidjaja diabadikan dalam uang kertas pecahan Rp50.000 sejak 16 Desember 2016.

Nama lengkapnya adalah Ir. Raden Haji Djoeanda Kartawidjaja merupakan putera dari pasanagan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat. Ia lahir tepat pada hari ini namun ditahun yang berbeda, 14 Januari 1911 di Tasikmalaya, Hindia Belanda.

Baca Juga

Deni Asy’ari Tekankan Relevansinya Mengonsolidasikan Gerakan Ekonomi Berjamaah

Muhammadiyah Kritik DPR Langgar Keputusan MK

Sejak lulus dari Technische Hooge School (THS) Bandung pada tahun 1933, ia merasa kehidupan pasca lulus cukup sulit. Sebab, pada tahun 1930-an pernah terjadi krisis ekonomi yang melanda seluruh dunia atau disebut dengan Malaise. Akibatnya  sekolah-sekolah banyak yang ditutup, pegawai di PHK dan penurunan gaji, bahkan lapangan pekerjaan semakin sempit sehingga harus menghemat pengeluaran keuangan.

Disisi lain, kebutuhan hidup kian semakin tinggi. Djoeanda telah mencari pekerjaan namun tak kunjung dapat hingga memutuskan mencari pekerjaan dan pergi ke Batavia. Pada tahun 1933, Djoeanda mengawali karirnya di Batavia dengan bekerja sebagai guru ilmu pasti di Algemenne Middlebare School (AMS) dan Kweekschool yang didirikan organisasi Muhammadiyah. Djoeanda mendedikasikan diri dan tanggung jawabnya selama lima tahun. Ia banyak mendapat banyak pengalaman khususnya bergabung menjadi anggota Muhammadiyah.

Pada tahun 1939, ia diangkat sebagai insinyur pada Jawatan Pengairan Jawa Barat di Departemen Pekerjaan Umum dan akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari sekolah. Djuanda merupakan seorang abdi masyarakat yang tulus dan dan tidak memiliki tendensi untuk meraih jabatan apapun.

Tak hanya sampai situ, pada tahun 1945, tepat pada tanggal 28 September Djoeanda diangkat sebagai Pimpinan Jawatan Kereta Api wilayah Jawa Barat dan Madura. Djoeanda menggerakkan para pemuda Indonesia untuk mengambil alih Jawatan Kereta Api. Ketika itu masih dikuasai oleh sisa-sisa pendudukan Jepang sebelum kedatangan pasukan Sekutu dan Belanda.

Djoeanda mengajak pemuda Indonesia untuk memperbaiki dan menata kembali gerbong-gerbong kereta. Pada saat itu, kereta api yang dikuasai oleh Jepang terlihat dalam kondisi yang buruk, mulai dari kursi yang sobek, gerbong yang kotor, kamar mandi yang baud an tak nyaman untuk dinaiki. Ia ingin mengubah dan memperbaiki fasilitas Kereta Api yang nyaman di pakai penumpang nantinya.

Tidak lama,  tahun berikutnya 1946,  Ia diangkat sebagai menteri muda perhubungan sampai akhir  hayatnya.  Pada tahun 1957, Djoeanda diangkat sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (1957-1959). Selama beberapa kali pergantian kabinet yang terhitung sebanyak tujuh belas kali, Djoeanda selalu menduduki posisi menteri. Sebanyak empat belas kali. Djoeanda juga dipilih oleh presiden Sukarno sebagai Perdana Menteri, dengan programnya “Kabinet Karya”.

Pada tahun berikutnya, Ia ditunjuk kembali menjadi Menteri Pertama pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1963). Sehingga dari tahun 1946 sampai meninggalnya tahun 1963, beliau menjabat sekali sebagai menteri muda. Atas segala jasa dan pengabdiannya demi nusa dan bangsa, nama Djoeanda diabadikan menjadi sebuah nama bandar udara di Surabaya. Dan yang tak kalah penting, Sumbangsih terbesarnya Djoeanda untuk Indonesia ialah Deklarasi Djoeanda pada tahun 1957. Diakhir hayatnya, Djoeanda dianugerahkan gelar sebagai “Pahlawan Nasional”.(rahel)

Tags: Jawatan Kereta ApiMenteri MarathonmuhammadiyahSejarah Djoeanda Kartawidjaja
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Deni Asy’ari Tekankan Relevansinya Mengonsolidasikan Gerakan Ekonomi Berjamaah
Berita

Deni Asy’ari Tekankan Relevansinya Mengonsolidasikan Gerakan Ekonomi Berjamaah

28 September, 2024
Prof Dr Abdul Mu'ti
Berita

Muhammadiyah Kritik DPR Langgar Keputusan MK

22 Agustus, 2024
Tingkatkan Taraf Hidup Rakyat, Muhammadiyah MoU dengan BCA Syariah
Berita

Tingkatkan Taraf Hidup Rakyat, Muhammadiyah MoU dengan BCA Syariah

2 Juli, 2024
Next Post
Kedudukan Wanita Dalam  Pandangan Islam

Valentine’s Day?

  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In