• Disclaimer
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami
Sabtu, Maret 14, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

Pengamatan “Super Blood Moon” di OIF UMSU Terkendala Cuaca

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
26 Mei, 2021
in Berita
Reading Time: 1 min read
A A
0
Share

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Pengamatan gerhana bulan darah (super blood moon) yang dilaksanakan di Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara terkendala cuaca yang berawan sehingga penampakan gerhana menjadi kurang maksimal.

“Kondisi cuaca yang sedikit berawan mengakibatkan penampakan gerhana yang sesungguhnya merupakan momen spesial tidak maksimal karena sebagian tertutup awan. Baru pada fase akhir cuaca tampak cerah sehingga momen gerhana bisa dinikmati, bahkan dengan secara langsung tanpa bantuan teleskop,” ungkap Kepala OIF UMSU, Dr. Arwin Juli Rahmadi Butarbutar kepada wartawan disela kegiatan pengamatan, Rabu malam (26/5).

Baca Juga

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

Dijelaskan dia, momen gerhana super blood moon atau bulan darah super merupakan fenomena yang istimewa. Ciri yang paling mencolok dari gerhana bulan total kali ini adalah warnanya sehingga disebut dengan super blood moon”. Fenomena bulan darah ini disebabkan oleh kondisi keterlihatan di Bumi. Saat Bulan melewati bayangan bumi, semakin sedikit sinar matahari yang jatuh ke permukaannya, dan semakin gelap.

Warna merah bulan sendiri disebabkan salah satunya adalah karena adanya atmosfer bumi.  Formasi awan besar di Bumi juga dapat menjelaskan perbedaan kecerahan. Efek awan muncul sebagai bercak gelap di seluruh permukaan Bulan yang terhalang.

Lebih lanjut dijelaskan dia, berbeda dengan momen gerhana sebelumnya, pada kali ini OIF UMSU menggelar pengamatan gerhana bulan secara terbatas karena situasi pandemi Covid-19. Pengamatan gerhana dimulai shalat maghrib yang dilanjutkan shalat gerhana dengan menerapkan protokol kesehatan.

Untuk pengamatan gerhana, OIF UMSU menyediakan sejumlah teleskop yang dimanfaatkan masyarakat yang untuk kali ini jumlahnya dibatasi.

Momen gerhana sendiri menurut Arwin, untuk kawasan Kota Medan hanya bisa dilihat sekitar 50 persen. Gerhana bulan mulai tampak setelah matahari terbenam dan berakhir sekitar pukul 19.52 WIB.(Syaifulh/Riz)

Tags: gerhanagerhana bulanmuhammadiyahUMSU
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu
Berita

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

11 Maret, 2026
Prof Abdul Mu’ti di Mata Para Kolega
Berita

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

11 Maret, 2026
Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara
Berita

Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara

11 Maret, 2026
Next Post

Syawalan PCM Limbung Bersama Ketua PWM Sulsel

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In