SURABAYA, Suara Muhammadiyah – Sepanjang berpetualang dalam rimba kehidupan, tanpa disadari manusia kerap mengalpakan nikmat yang disemai Allah.
“Kemungkinan besar kita tidak terlalu menyadari ada nikmat Allah yang besar,” beber Muhammad Saad Ibrahim, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Memvisualisasikan sebuah organ tubuh manusia: jari-jari tangan. Saad mengomentari pada umumnya, dalam kondisi sehat, jari tangan itu befungsi dengan baik.
“Tapi begitu kena asam urat, maka jari kita menjadi sakit,” tuturnya.
Di situlah relevansi nikmat Allah yang begitu rupa. Yang kebanyakan manusia tidak menyadari akan hal substansial tersebut.
“Hatta dalam konteks gerak jari kita ini. Kita menyadari nikmat Allah itu justru seringkali hilang,” ujar Saad, Selasa (10/3) di TvMu Channel dalam program Tausiyah Kiai Saad Ibrahim.
Konteks tersebut menemukan implikasinya dengan berpuasa. Ketika berpuasa, umat Islam tidak diperbolehkan untuk makan dan minum.
“Maka rasanya ada yang hilang. Untungnya kemudian ada konsep berbuka,” ucap Saad.
Berbeda kondisinya kalau tidak berpuasa. Tidak ada larangan untuk konteks itu. “Makan minum itu mungkin kelihatan biasa,” sambungnya.
Karena itu maka, banyak orang-orang di kemudian hari nanti merasakan penyesalan hatta terhadap kehidupan tidak dipergunakan sebagaimana semestinya.
“Tapi itu sudah terlambat. Dan sudah tidak mungkin kembali (ke alam dunia). Moga-moga kita bisa mengambil pelajaran, termasuk tentang puasa ini,” pungkasnya. (Cris)
