Khutbah Idul Fitri: Tiga Pilar Prilaku Muslim Pasca Ramadhan

Ajaran Leluhur

Foto Ilustrasi

Khutbah Idul Fitri: Tiga Pilar Prilaku Muslim Pasca Ramadhan

Mohammad Nur Rianto Al Arif, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Timur/ Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ:

اَتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ، وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ أُمُوْرِ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ.

 

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Marilah kita panjatkan puji Syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tiada terhingga kepada kita sekalian, terutama nikmat iman dan Islam. Sehingga di pagi hari yang indah ini kita dapat berkumpul bersama, bersimpuh di hadapan-Nya melaksanakan shalat Iedul Fitri pada 1 Syawal 1447 H.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan suri tauladan utama untuk selalu kita tiru agar kita dapat menjadi muslim yang baik dan benar. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk mengikuti ajaran Rasulullah SAW.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Hadiri yang berbahagia

Di hari yang fitri ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Idulfitri bukan sekadar perayaan, bukan hanya pakaian baru dan hidangan istimewa, tetapi momentum kembali kepada fitrah yaitu kepada hati yang bersih, niat yang lurus, dan tekad yang diperbarui.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(QS Al-Baqarah: 183)

Tujuan Ramadan adalah takwa. Maka pertanyaannya ialah apakah setelah Ramadan kita menjadi lebih dekat kepada Allah? Lebih jujur? Lebih peduli? Lebih sabar? Lebih disiplin?

Ramadhan bulan penuh semangat dan kontemplatif. Ramadan benar-benar kita jadikan sebagai bulan menuju taqwa. Kualitas ibadahnya pun lebih terasa di batin, sangat kontemplatif, lebih khusyuk dibandingkan dengan ibadah di bulan lainnya. Taqwa bukanlah sekadar ritual yang dilaksanakan dalam bulan Ramadan saja, tetapi harus menjadi gaya hidup yang terus-menerus kita praktikkan setiap hari. Taqwa memandu kita untuk bertindak dengan kejujuran, integritas, dan kebaikan kepada sesama manusia.

Hari ini, di tengah-tengah kebahagiaan ini, marilah kita berjanji kepada diri sendiri untuk meningkatkan taqwa kita, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Mari kita berkomitmen untuk senantiasa menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, sehingga kita dapat menjadi manusia yang bertaqwa dalam segala aspek kehidupan.

Jangan sampai menimpa kita, perumpamaan orang yang menata bata demi bata hingga berwujud bangunan yang indah dan megah, namun tiba-tiba dia sendiri yang merobohkannya. Atau laksana orang yang mengurai benang yang telah dipintalnya.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Jamaah shalat Ied yang berbahagia

Hari ini kita mengangkat satu tema penting, yaitu ikhlas, syukur, dan istiqamah yang merupakan tiga pilar Muslim pasca Ramadan.

Pertama: Ikhlas

Ramadan melatih kita untuk beribadah tanpa dilihat manusia. Kita berpuasa meski tidak ada yang mengawasi. Kita menahan lapar dan dahaga bukan karena takut kepada manusia, tetapi karena takut kepada Allah. Inilah makna ikhlas.

Allah berfirman:

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”(QS Al-Bayyinah: 5)

Ikhlas adalah memurnikan niat hanya karena Allah. Amal yang besar tanpa ikhlas menjadi kecil. Amal yang kecil dengan ikhlas menjadi besar.

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah Ramadan, godaan riya’ bisa datang. Kita ingin dipuji karena rajin tarawih. Ingin dianggap dermawan karena banyak bersedekah. Padahal yang diterima Allah bukanlah banyaknya amal, tetapi keikhlasannya.

Ikhlas juga berarti tidak beribadah hanya karena Ramadan. Jika setelah Ramadan kita meninggalkan shalat berjamaah, meninggalkan Al-Qur’an, meninggalkan sedekah, maka jangan-jangan ibadah kita selama ini lebih karena suasana, bukan karena Allah. Maka mari kita jaga hati kita. Luruskan niat kita. Jadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Jamaah shalat Ied yang berbahagia

Kedua: Syukur

Hari ini adalah hari syukur. Kita bersyukur karena diberi umur untuk menyelesaikan Ramadan. Tidak semua orang yang memulai Ramadan, bisa merayakan Idulfitri.

Allah berfirman:

“Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”(QS Al-Baqarah: 185)

Takbir yang kita kumandangkan sejak tadi malam adalah bentuk syukur. Namun syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”. Syukur adalah menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Allah.

Allah menjanjikan:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS Ibrahim: 7)

Bersyukur atas kesehatan berarti menjaganya untuk taat. Bersyukur atas rezeki berarti mengeluarkan zakat dan sedekah. Bersyukur atas keluarga berarti mendidik mereka dalam iman dan akhlak.

Di hari raya ini kita saling memaafkan. Ini juga bentuk Syukur, karena hati yang bersih adalah nikmat yang besar. Rasulullah bersabda:

“Tidaklah berkurang harta karena sedekah, dan tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliaannya.” (HR. Muslim)

Syukur menjadikan kita rendah hati. Syukur menjauhkan kita dari kesombongan. Syukur menjadikan kita peduli terhadap sesama.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Jamaah shalat Ied yang berbahagia

Ketiga: Istiqamah

Inilah pilar yang paling berat: istiqamah.

Ramadan telah melatih kita bangun sebelum fajar, menahan diri, memperbanyak ibadah. Tetapi setelah Ramadan, apakah semangat itu akan padam?

Allah berfirman:

“Maka tetaplah engkau (Muhammad) pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan.” (QS Hud: 112)

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih.’” (QS Fussilat: 30)

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah , “Wahai Rasulullah, katakan kepadaku satu perkataan tentang Islam yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.” Beliau menjawab:

“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah.” (HR. Muslim)

Istiqamah berarti konsisten dalam kebaikan meski sedikit. Lebih baik sedikit tetapi terus-menerus daripada banyak tetapi sesaat.

Rasulullah bersabda:

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Jangan jadikan Allah hanya sebagai “Tuhan Ramadan”. Jadikan Allah sebagai Tuhan sepanjang tahun.

Jika Ramadan melatih kita jujur, maka setelah Ramadan jangan kembali berdusta.
Jika Ramadan melatih kita menahan amarah, maka setelah Ramadan jangan mudah marah.
Jika Ramadan melatih kita peduli kepada fakir miskin, maka setelah Ramadan jangan kembali abai.

Inilah makna kemenangan yang sesungguhnya.

Di hari yang agung ini, mari kita simpulkan:

Ikhlas menjaga hati kita.

Syukur menjaga nikmat kita.

Istiqamah menjaga masa depan iman kita.

Semoga Ramadan yang telah kita lalui menjadi saksi kebaikan, bukan saksi kelalaian. Semoga Allah menerima puasa kita, qiyam kita, sedekah kita, dan seluruh amal kita.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Di akhir khutbah ini saya ingin mengajak hadirin sekalian marilah kita tetap teguh dalam keislaman dan keimanan kita. Idul fitri harus kita jadikan sebagai momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai utama kehidupan dan akhlak mulia. Dengan senantiasa menerapkan akhlaq mulia dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan berbangsa maka sesungguhnya kita telah menampilkan cara berislam yang mencerahkan dan memajukan. Bahwa akhlak mulia adalah citra diri setiap muslim, karena sesungguhnya akhlaq mulia tidak bisa dipisahkan dengan keimanan dan ketaqwaan. Ketika setiap Muslim di negeri ini sebagai penduduk terbanyak telah menerapkan karakter utama sebagai perwujudan iman dan taqwa, niscaya Allah akan memberikan anugerahnya kepada bangsa kita.

Akhirnya marilah kita memohon kepada Alllah semoga kira senantiasa diberi hidayah, sehingga di dalam menghadapi hidup yang semakin sulit ini kita tetap menjalani dengan benar. Kita berdoa Semoga Allah menerima seluruh amal kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Kita berdoa agar para pemimpin bangsa dan seluruh warga bangsa diberi petunjuk sehingga selalu menjaga tanah air dan bangsa dengan nilai-nilai utama, menjadi bangsa yang bermartabat, berkeadilan dan berkemakmuran

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ

يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.  اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.

Exit mobile version