Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tadarus Al-Qur’an menjadi aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari bulan Ramadhan. Kata tadarus sendiri berasal dari bahasa arab, darasa yang berarti mempelajari, mengkaji, atau mengambil pelajaran.

“Dia menjadi darusan karena dia telah menjadi tradisi,” kata Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahad (8/3) di TvMu Channel dalam program Jendela Ramadhan.

Setidaknya tadarus mencakup dua sifat, yakni individual (mengaji sendiri). Ada juga, yang sifatnya kolektif (bersama-sama, ndarusan).

Bagi Mu’ti, tradisi ini berasal dari pengalaman secara kultural Nabi Muhammad Saw. Di mana, Nabi bertadarus bersama Malaikat Jibril, yang kemudian ia mengajarkan Al-Qur’an (HR Bukhari).

“Jibril membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian Nabi juga mendengarnya. Atau Nabi membaca ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian Jibril mendengarnya,” terangnya.

Dari sinilah kemudian, umat Islam secara khusus meluangkan waktunya di bulan Ramadhan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an.

Bahkan, ada yang mencandra dengan target one day one juz (ODOJ), satu hari satu juz untuk membentuk kedekatan dengan kitab suci tersebut.

“Ada beberapa malah satu hari satu Al-Qur’an (khatam satu Al-Qur’an 30 juz),” ucap Mu’ti, yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah itu.

Para tokoh-tokoh Islam seperti Imam Syafi’i, misalnya. Ia selama bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur’an sampai 60 kali. “Tapi tentu saja masing-masing (sesuai kemampuan setiap orang),” lanjutnya.

Lebih dari itu, ada 4 aspek fundamental terkait dengan tadarus Al-Qur’an, pertama membaca Al-Qur’an bagian dari beribadah. Kedua, membaca Al-Qur’an dengan tartil (pelan-pelan dengan suara yang seindah-indahnya).

“Supaya kita merasakan dan meresapi apa yang kita baca,” ujar Mu’ti.

Ketiga, berusaha memahami ayat-ayat yang dibaca. Dan yang keempat, lanjut Mu’ti, berusaha melihat ke dalam diri sendiri. Sejauh mana pengamalan kandungan Al-Qur’an telah terejawantah dalam kehidupan.

“Apakah yang dilarang oleh Al-Qur’an sudah kita tinggalkan atau belum. Sehingga tadarus itu bukanlah kita membaca Al-Qur’an dengan cepat-cepatan,” tegasnya.

Yang penting di sini, tekan Mu’ti, adalah frekuensinya. “Seberapa sering kita baca, bukan seberapa banyak yang kita baca,” sambungnya.

Dari sinilah kemudian, dengan tadarus Al-Qur’an, dapat memperoleh barakah nan melimpah. “Kita mendapatkan ketenangan jiwa,” bebernya.

Karena hal itu merupakan representasi dari zikir kepada Allah. “Dan Qur’an itu di antara namanya adalah adz-dzikr, yang artinya peringatan,” sebut Mu’ti.

Pada saat yang sama, bisa juga berarti dengan membaca Al-Qur’an itu kita tidak menjadi orang yang cepat pikun.

“Jadi di antara cara kita memperlembat kepikunan adalah banyak membaca, dan salah satunya adalah membaca Al-Qur’an,” tegasnya sekali lagi.

Karena itu, dengan sisa Ramadhan beberapa hari lagi—jelang Idul Fitri—umat Islam makin masif meningkatkan daya minat membaca Al-Qur’an (tadarus Al-Qur’an).

“Kita bisa membaca sendiri di waktu-waktu yang kita luangkan. Bukan waktu luang. Kita memang meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an,” tuturnya. (Cris)

Exit mobile version