• Disclaimer
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
Jumat, April 3, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

Ikhtiar Menjadi Umat Moderat

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
5 Mei, 2016
in Berita, Dinamika persyarikatan
Reading Time: 1 min read
A A
1
Seruan Tahun 1954: Jagalah Anak-Anak Kita
Share

SUARA MUHAMMADIYAH–Menjadi umat moderat adalah pilihan sikap yang dibentuk, melalui jalan panjang. “Lewat membaca kitab Allah, dan juga kitab putih (buku)”, kata Dr. Robby Habiba Abrar. Tak cukup disitu, jalan perenungan terhadap kondisi sosial, juga bisa ditempuh. “Misalnya ketika marak aksi penyayatan di Jogjakarta akhir-akhir ini. Kita yang sudah terbiasa mengaitkan kondisi sosial dengan teks Qur’an, serta isi buku, akan mampu mengamatinya secara utuh” ujar ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

Sikap moderat sendiri memiliki arti sebagai jalan pertengahan. Dalam bahasa arab, disebut dengan wasathiyah. Pada titik inilah, seseorang atau sekelompok umat, memposisikan dirinya diantara kutub radikal dan juga kutub liberal. “Dan salah satu kelompok umat Islam yang meneguhkan dirinya sebagai umat moderat, adalah Muhammadiyah,” tambah Robby. Pilihan menjadi umat moderat adalah hal yang tepat. Mengingat fenomena global, dimana seseorang atau sekelompok orang, bisa terbagi ke dalam gejala islamophobia, islamophilia, dan juga westophobia. “Mereka yang mengidap phobia, akan melakukan klaim kebenaran sepihak. Dimana selain dirinya dan kelompoknya dianggap salah. Sementara islamophilia, merupakan jalan untuk memperbaiki citra umat Islam di mata dunia” terangnya.

Baca Juga

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

Pemaparan sikap moderat oleh dosen fakultas Ushuluddin UIN Jogja ini, kemudian menarik minat para peserta Kajian Malam Sabtu (KAMASTU) yang rutin diadakan di gedung PWM DIY itu. Salah satu peserta Kajian, menanyakan fenomena segelintir anak muda Muhammadiyah yang anti terhadap kelompok Syi’ah. Padahal dalam Muktamar Muhammadiyah ke 47, mengamanatkan untuk menempuh jalan dialog dengan aliran-aliran keagamaan yang ada di Indonesia, termasuk Syi’ah. Menanggapi pertanyaan ini, Robby menyatakan, perlunya upaya merealisasikan jalan dialog tersebut. Diawali dengan sikap saling menghargai perbedaan pemahaman keagamaan umat Islam. “Karena pada dasarnya, pemahaman keagamaan itu merupakan pemikiran yang bisa keliru, mengingat keterbatasan akal manusia. Sedangkan kebenaran adalah mutlak milik Allah. Oleh karena itu, menjadi penting bagi kita, untuk membedakan antara Islam, dan juga pemikiran Islam” tegasnya pada hadirin. (GR)

Tags: IslamKAMASTUmoderatmuhammadiyahPengajiansuara muhammadiyahYogyakarta
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu
Berita

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

11 Maret, 2026
Prof Abdul Mu’ti di Mata Para Kolega
Berita

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

11 Maret, 2026
Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara
Berita

Kekerdilan Berpikir Membuat Manusia Alpa dengan Nikmat Allah Tiada Tara

11 Maret, 2026
Next Post

Membangun Kembali “Kedai Kami”

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In