SUARA MUHAMMADIYAH–Menjadi umat moderat adalah pilihan sikap yang dibentuk, melalui jalan panjang. “Lewat membaca kitab Allah, dan juga kitab putih (buku)”, kata Dr. Robby Habiba Abrar. Tak cukup disitu, jalan perenungan terhadap kondisi sosial, juga bisa ditempuh. “Misalnya ketika marak aksi penyayatan di Jogjakarta akhir-akhir ini. Kita yang sudah terbiasa mengaitkan kondisi sosial dengan teks Qur’an, serta isi buku, akan mampu mengamatinya secara utuh” ujar ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta ini.
Sikap moderat sendiri memiliki arti sebagai jalan pertengahan. Dalam bahasa arab, disebut dengan wasathiyah. Pada titik inilah, seseorang atau sekelompok umat, memposisikan dirinya diantara kutub radikal dan juga kutub liberal. “Dan salah satu kelompok umat Islam yang meneguhkan dirinya sebagai umat moderat, adalah Muhammadiyah,” tambah Robby. Pilihan menjadi umat moderat adalah hal yang tepat. Mengingat fenomena global, dimana seseorang atau sekelompok orang, bisa terbagi ke dalam gejala islamophobia, islamophilia, dan juga westophobia. “Mereka yang mengidap phobia, akan melakukan klaim kebenaran sepihak. Dimana selain dirinya dan kelompoknya dianggap salah. Sementara islamophilia, merupakan jalan untuk memperbaiki citra umat Islam di mata dunia” terangnya.
Pemaparan sikap moderat oleh dosen fakultas Ushuluddin UIN Jogja ini, kemudian menarik minat para peserta Kajian Malam Sabtu (KAMASTU) yang rutin diadakan di gedung PWM DIY itu. Salah satu peserta Kajian, menanyakan fenomena segelintir anak muda Muhammadiyah yang anti terhadap kelompok Syi’ah. Padahal dalam Muktamar Muhammadiyah ke 47, mengamanatkan untuk menempuh jalan dialog dengan aliran-aliran keagamaan yang ada di Indonesia, termasuk Syi’ah. Menanggapi pertanyaan ini, Robby menyatakan, perlunya upaya merealisasikan jalan dialog tersebut. Diawali dengan sikap saling menghargai perbedaan pemahaman keagamaan umat Islam. “Karena pada dasarnya, pemahaman keagamaan itu merupakan pemikiran yang bisa keliru, mengingat keterbatasan akal manusia. Sedangkan kebenaran adalah mutlak milik Allah. Oleh karena itu, menjadi penting bagi kita, untuk membedakan antara Islam, dan juga pemikiran Islam” tegasnya pada hadirin. (GR)





