Refleksi Musyda: Reorientasi Gerak Organisasi
Oleh: Yandi
Pimpinan Daerah Muhammadiyah kabupaten Tasikmalaya insya Allah akan menyelenggarakan Musyda ke – 12 pada tanggal 25 Juni 2023. Secara organisasi event ini adalah puncak permusyawaratan bagi para kader dan aktifis di level daerah. Sekaligus menjadi forum untuk melakukan regenerasi dan sirkulasi kader, serta evaluasi atas apa yang telah dicapai dan apa yang belum.
Di kalangan akar rumput ada ekspektasi agar Musyda tidak cuma sekedar euforia berkumpul dan bertemunya para aktifis. Karena ada hal yang lebih substansial yaitu bagaimana menciptakan momentum Musyda menjadi sebuah turning point untuk melakukan perubahan.
Titik balik itu perlu dilakukan dengan cara melakukan reorientasi gerak organisasi , meninjau kembali sekaligus memikirkan ulang arah pergerakan Muhammadiyah kabupaten. Mau dibawa kemana dan apa target yang ingin dicapai untuk 5 tahun ke depan.
Ada sebuah pernyataan menarik dari ketua PDM kab. Tasikmalaya, Drs. Dadan Ahmad Sopyan. Mpd yang dilontar saat rapat koordinasi panitia Musyda di Kantor PDM beberapa waktu lalu. Yaitu selama ini unsur pembantu pimpinan (UPP) yang aktif adalah Majelis Tabligh, majelis Tarjih , Majelis kesehatan, namun sama sekali tidak menyebutkan majelis ekonomi.
Statement ini menyiratkan sebuah acknowlegdement pengakuan yang jujur bahwa selama ini personel PDM cenderung didominasi oleh “otak kiri” , yang linear dengan model kepemimpinan birokrasi yang cenderung adem ayem tanpa riak dan lebih menyukai establishment.
Dalam perhelatan muktamar Muhammadiyah ke – 48 di Solo , isu kebangkitan ekonomi kembali mencuat. Hal ini ditegaskan ulang oleh Prof Sayuti sekretaris PP. Muhammadiyah dalam acara dialog ideologi, politik dan organisasi (Ideopolitor), yang diselenggarakan di Universitas Ahmad Dahlan, sabtu tanggal 06 mei 2023.
Dalam kesempatan itu dinyatakan kembali tentang 8 prioritas gerakan Muhammadiyah kedepan. Salah satunya adalah mengembangkan amal usaha unggulan dan gerakan ekonomi Muhammadiyah secara lebih intensif dan masif sehingga Muhammadiyah semakin kuat , mandiri dan berperan optimal dalam memajukan umat dan bangsa.
Sosok “Driver”
Merespon “resolusi” PP. Muhammadiyah tentang kebangkitan dakwah bidang ekonomi maka sebagai sebuah entitas jam’iyyah sudah menjadi keharusan bagi para kader di daerah untuk berusaha mem- breakdown gagasan ini.
Muhammadiyah ke depan menghadapi tantangan dakwah yang jauh lebih kompleks . Persaingan di berbagai bidang kehidupan menjadi semakin kompetitif.
Tugas para pimpinan PDM dalam mengemban “khittah perjuangan” tidaklah ringan. Tata kelola organisasi tidak bisa lagi menggunakan pola lama dengan gaya kepemimpinan “bussines as usual”, mengurus Persyarikatan dengan “kaifiyah” konvensional, mengalir apa adanya tanpa gereget.
Oleh karena itu disamping kapasitas, kapabilitas dan integritas dibutuhkan pula pimpinan PDM yang punya waktu dan betul – betul ikhlas ingin berkhidmat. Tanpa ada ambisi dan motif pribadi diluar kepentingan Muhammadiyah. Jika menyertakan prerequiste ideal adalah mereka yg telah selesai dengan urusan dirinya sendiri agar bisa fokus dalam berjuang di Muhammadiyah, tidak sebaliknya minta diurus oleh Muhammadiyah.
Dalam proyeksi kedepan formasi kepemimpinan di tubuh PDM jelas harus mengalami perombakan. Ada kebutuhan penting dan mendesak bagi munculnya wajah wajah baru di PDM yang memiliki skill di luar figur yang memiliki “otoritas” keagamaan.
Dari struktur pimpinan lama salah satu kekurangan yang segera tampak adalah figur praktisi bisnis atau sekurang – kurangnya pimpinan ber-“otak kanan” yang memiliki jiwa entrepreneurship, kreatif dan inovatif.
Diharapkan sosok ini selain di internal PDM mampu memimpin dengan menciptakan chemistry ,kekompakan, soliditas dan sinergi untuk mendinamisasi organisasi.
Juga bisa tampil menjadi seorang “driver” yang menavigasi, mengarahkan dan menarik gerbong Muhammadiyah kabupaten secara lebih akseleratif , agar lebih berdaya, dan mandiri secara ekonomi.
Seorang pimpinan berkarakter “driver” adalah sosok yang cara berpikirnya “beyond constraint” , melampaui segala rintangan. Dalam keyakinannya selalu ada peluang atau opportunity, jika satu pintu tertutup pintu yang lain terbuka. Tidak ciut dengan berbagai kendala yang menghadang sehingga menyerah dilangkah pertama.
Dalam acara kajian ramadlan PWM Jatim yang dilaksanakan di UMM, sabtu 25 maret 2023, tema gerakan kebangkitan ekonomi Muhammadiyah kembali digelorakan oleh Pimpinan Pusat.
Prof. Muhajir Effendi menargetkan semua PDM di Jatim harus punya satu toko retail. Untuk urusan permodalan akan menjadi urusan pusat. “ modal usaha itu bisa berasal dari APBN atau Non APBN”, tegasnya.
Terus terang ketika penulis pertama kali memasuki kantor PDM Kab. Tasikmalaya, tiba- tiba muncul “pikiran liar”. Gedung ini rasanya lebih “menggoda” untuk dijadikan pusat retail Muhammadiyah yaitu Logmart. Kantor PDM menempati lantai atas untuk sementara waktu. Bangunan sudah cukup bagus cuma perlu sedikit di-“make over”. Selanjutnya disusun “bussines plan” lalu didiskusikan dengan Direktur Utama Suara Muhammadiyah Deny Asari yang telah melakukan langkah langkah revolusioner di Suara Muhammadiyah sehingga kini berkembang pesat menjadi sebuah gurita bisnis.
Terakhir, pesan untuk PDM periode muktamar 2022- 2027, ingatlah masa depan Muhammadiyah kab. Tasikmalaya tergantung pada geliat gerakan ekonominya . Narasi tentang “konversi” gedung PDM menjadi toko retail Logmart hanyalah imajinasi seorang kader yang ingin melihat Muhammadiyah Kabupaten maju secara ekonomi. Semoga Musyda ke -12 yang tinggal beberapa pekan ini bisa memunculkan sosok “driver” yang sanggup membawa progress yang kita dambakan . Mudah mudahan Allah memberi pertolongan dan memudahkan segala langkah kita.
Yandi, Ketua PCM Ciawi, Tasikmalaya
