• Tentang SM
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami
Kamis, Maret 12, 2026
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

PEMBARUAN PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
13 Juni, 2023
in Sajian Utama
Reading Time: 1 min read
A A
0
PEMBARUAN PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH
Share

PEMBARUAN PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH

Berfikir melampaui zamannya dan kemudian lahir sebagai perintis sekaligus pelopor sekolah modern di Indonesia, itulah yang dilakukan oleh KH Dahlan pendiri Muhammadiyah. Atas dasar kemajuan itu, di awal ia dicap sebagai “orang asing,” orang yang tidak pada umumnya, orang yang menerobos batas-batas.

Baca Juga

Lazismu Danurejan Salurkan Bantuan untuk Guru KB Al Amna

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

Inilah Islam yang “asing” itu. “Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orangorang yang asing” (HR Muslim). “Asing” pada hadits ini dimaknai oleh Prof Munir Mulkhan dengan berfikir dan berbuat melampaui zamannya. Sangat progresif dan selalu berorientasi ke masa depan. Karena pikiran dan cara berfikir Kiai Dahlan teramat maju, maka masyarakat saat itu belum mampu menerima jalan pikiran hebat tersebut. Sekolah yang menggabungkan konsep tradisional dan konsep barat ini dianggap sesat bahkan dicap kafir saat itu. Tapi lihat, saat ini di Indonesia model pendidikan ala Kiai Dahlan inilah yang dipakai. Dalam kamus Persyarikatan, apa yang dilakukan oleh Kiai Dahlan inilah yang disebut dengan tajdid atau pembaruan.

Semangat pembaruan ini yang mestinya ditangkap oleh generasi penerus untuk terus melahirkan terobosan-terobosan baru yang kreatif, inovatif, dan futuristik. Bukan sebaliknya hanya pasif menerima warisan Kiai Dahlan tanpa kemudian melibatkan spirit tajdid. Jika demikian yang terjadi, itu artinya sekolah-sekolah Muhammadiyah mengalami stagnasi, diam di tempat, seolah sudah mengamalkan konsep pendidikan paling kekinian, tapi sebenarnya hanya sebatas menjalankan tradisi warisan Kiai Dahlan.

Apakah warisan tersebut sudah zaman dan bahkan berfikir dan berbuat melampaui zamannya.

Selengkapnya dapat berlangganan Majalah Suara Muhammadiyah

Klik di sini https://suaramuhammadiyah.or.id/ebook/paket 

PEMBARUAN PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH

Tags: muhammadiyahpendidikansajian utama
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Lazismu Danurejan Salurkan Bantuan untuk Guru KB Al Amna
Berita

Lazismu Danurejan Salurkan Bantuan untuk Guru KB Al Amna

11 Maret, 2026
Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu
Berita

Green Hajj Bisa Jadi Solusi Edukasi Pengelolaan Sampah dari Hulu

11 Maret, 2026
Prof Abdul Mu’ti di Mata Para Kolega
Berita

Seberapa Sering Membaca, Bukan Seberapa Banyak yang Dibaca

11 Maret, 2026
Next Post
Internasionalisasi, FKIP UMSU Gandeng PPD Rembau Malaysia

Internasionalisasi, FKIP UMSU Gandeng PPD Rembau Malaysia

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In